Benarkah menurut mereka tidak ada bid’ah Hasanah…. ?

Memang secara harfiah hadith ini jelas simak:

Kulla bid’ah dholalah wa kulla dholalah fii naar.
Setiap perkara baru itu sesat, dan setiap sesat bertempat di neraka.

Namun pemaknaanny jangan di maknai dengan pemaknaan harfiah hingga menjadikan semua bid’ah itu dholalah atau ‘kullu’ dalam hadith bersifat semua. Karena kullu bersifat ‘am Makhsus, artinya makna bid’ah lebih luas dari makna sesat.

Taqrir ilmu mantiq dalam ta’limul majani:

Wa ‘ammumakhsush huwa syai-a yazmi’aani fii maddati waahidatin wayanfaridu ihdaa humaa fii maddatin ukhro. Marji’uhu gholibaan ila kulliyyah mujabah w kulliyyah salibah

Terjemah bebas: Dan Nisbat ‘Am Makhsus ialah dua hal yang dapat menyatu dalam satu tempat dan salah satunya dapat menyatu dengan yang lain. Biasanya akan kembali pada Kulliyyah Mujabah dan kuliyyah Salibah.

Seperti contoh:
Kullu iimanin ni’matu walaisa kullu ni’matin iimaanan
nikmat akan tetapi tidak setiap nikmat itu iman. (Taqrir ilmu mantiq. ta’limul majani)

Karena adanya bid’ah hasanah di perkuat dari keterangan hadith sayyidina Asisyah Radhiaallahu’anhu,
Simak Hadith Sayyidina Aisyah Radhiyallahu’anhu.

ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ

Barang siapa yang berbuat sesuatu yang
baru dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak. -HR. Bukhari-

Hadith ini dengan jelas menyebutkan ditolaknya amalan seorang pembuat pembuat syariat baru adalah. Yg tidak sesuai dengan syariat(min laisa minhu) yg sudah ditetapkan dalam ibadah mahdoh. Semisal sholat subuh 3 rakaat, dzuhur 2 rakaat dst.

Bahkan untuk memperkuat adanya bid’ah hasanah imam syafii Rahimaallah berkata dalam kitabnya Hasyiah Ianathuth-Thalibin – Juz 1 hal. 313:

Qola syafii radhiaallahu’ anhu- maa ahdatsa wakhulafa kitaab aw sunnatan aw ijmaa’ aw atsaran fahum bid’atu dholalah- wamaa ahdatsa minal khairi walam yukhaalifu syai-an min dzalika fahuwal bid’atu mahmudah

Terjemah bebasnya:
Imam Syafii Rahimaallah berkata : Segala hal yg baru (tidak terdapat di masa Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam) dan menyalahi pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat. Dan Segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam) dan tidak menyelahi pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji, bernilai pahala…

Jadi lengkap sudah maksud-maksud dari hadith Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam tentang Maksud Bid’ah dholalah yg sesungguhnya, dengan artian ijma para sahabat dan ulama mengatakan bid’ah memiliki 2 makna : yaitu hasanah dan Sayyiah.

Jadi marilah kita sama-sama tabayun, tidak saling mengbid’ahkan perkara-perkara yg tidak dilarang oleh sahabat ataupun ulama khalaf. Dan menghargai setiap amaliyah 2 orang lain; imam Baihaqi berkata : Rasul bersabda ikhtilafu ummati rohmatan; perbedaan umatku adalah rahmat. Imam Syatibi dalam kitab al-i’tisam: Sejumlah besar Salaf percaya bahwa perbedaan umat dalam cabang hukum (furu’) sebagai jalan dari rahmat Allah, dengan mengutip perkataan al-Qasim ibn Muhammad (ibn Abi Bakr al-Siddiq)’s : “Allah telah membesarkan kita melalui perbedaan antara Sahabat Rasulullah dalam praktek (syariah) mereka.”

Tidak ada yang melakukan hal yang sama dengan satu diantara dari mereka, kecuali dia (al-Qasim menggolongkannya sebagai bagian dari kebenaran….

Akhiir kutipan ini ana mengajak merenungi Hadith berikut:

Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas kalian hal-hal yang fardhu, maka janganlah kalian meninggalkannya. Dia telah melarang kalian dari berbagai hal, maka janganlah dilanggar. Dia telah memberi batas-batas dalam setiap hal, maka janganlah melewatinya. Dia juga telah membiarkan (mendiamkan) berbagai hal sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena alpa, maka janganlah kalian mencari-carinya (mempersulit diri). (HR ad-Daruquthni).

Allahu mus’taan

#depok16/10/13