“Bibi adalah ‘Pengganti’ Ibu”

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَفْصٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيمًا فَهَلْ لِي تَوْبَةٌ قَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ لَا قَالَ هَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَبِرَّهَا

Dari Ibnu Umar bahwasanya; Seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh, aku telah berbuat dosa besar, apakah aku masih mempunyai kesempatan untuk bertaubat?” beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah kamu mempunyai bibi?” laki-laki itu menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, berbaktilah kepadanya.” (HR. Tirmidzi :1827)

Hadits ini teramat menarik, saat seorang yang telah terlanjur melakukan dosa bertanya kepada Nabi SAW tentang kesempatannya untuk bertaubat, beliau justeru balik menanyakan perihal ibunya, ketika mendengar jawaban bahwa ibunya telah meninggal, Nabi Saw menanyakan saudari perempuan ibunya (bibi), dan beliau memerintahkan untuk berbakti kepadanya.

Maha Suci Allah, berbakti kepada ibu dapat menghapuskan dosa, karena dengan berbakti kepada ibu maka sungguh telah ‘mengundang’ keridhoanNya, bila Dia telah memberikan ridho kepada hambaNya, adakah dosa yang belum terampuni?, kedudukan ibu memang teramat istimewa di sisiNya.

Hadits diatas semakin menegaskan tentang dahsyatnya kedudukan seorang ibu, Nabi SAW memuliakan kedudukan seorang bibi sebagai pengganti seorang ibu bila sudah meninggal dunia, seakan nabi saw mengisyaratkan kpd kita bahwa setiap yang berkaitan dengan ibu maka terbawa menjadi mulia kedudukannya disisi Allah.

Maha Suci Allah, kita semakin tersadarkan kini, tak ada alasan lagi menunda berbuat kebaikan untuk sang ibu, beliau memang teramat istimewa, mereka mendapatkan kedudukan khusus dan perlakuan khusus dari Pencipta Semesta Raya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman :14)

Ayat ini menjadi bagian alasan mengapa harus memuliakan seorang ibu, Allah ceritakan ‘pengorbanan’ mereka dalam mushaf suciNya, Allah abadikan keikhlasan mereka dalam ‘bertaruh’ nyawa ketika mengandung dan melahirkan didalam firmanNya.

Bila Yang Maha Gagah sedemikian memberikan ‘penghargaan’ buat seorang ibu, bila Yang Maha Kekal sedemikian ‘menghormati’ kedudukan seorang ibu, maka apalagi kita seharusnya?.

Pejamkanlah sejenak kedua mata kita, lalu hadirkan sosok ibu dalam bayangan kita, tatap dengan seksama wajah mulianya, lihat senyum ramah yang menghias, dan rasakan betapa cahaya keikhlasan dan kasih sayang ‘membalut’ seluruh tubuh ibu kita.

Bila ketika membaca ini sedang berdekatan dengan ibu, peluklah ia, ciumlah, lalu bisikkan perlahan dengan mesra ucapan terimakasih atas segala kebaikannya, karena mereka teramat layak buat mendapatkan penghormatan dari anak2nya.

Bila mereka telah tiada, maka sambangi saudara ibu, lalu perlakukan mereka seperti memperlakukan seorang ibu, karena mereka sebagai pengganti seorang ibu, begitu yang nabi pesankan dalam hadits ini.

Salam hormat buat seluruh ibu dipermukaan bumi ini, mereka bukan hanya istimewa, mereka teramat indah, nama mereka tersimpan didalam dada sepanjang masa, saat hidup dan meskipun telah tiada.

Mataku mulai ‘berkaca’, wajah wanita yang telah melahirkanku ‘menari’ dalam bayangku, sejak kurangkai kata2 ini, dan kini semakin aku tak kuasa menahan kerinduan didada.

Wallahu A’lam Bisshowab.