حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ قَال سَمِعْتُ مُسْتَوْرِدًا أَخَا بَنِي فِهْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَاذَا يَرْجِعُ

Dari Bani Fihr, berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Dunia bagi akhirat itu tidak lain seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut lalu perhatikanlah apa yang dibawa kembali.” (HR. Tirmidzi : 2245)

Dalam hadits ini kita akan mengetahui sebuah perumpamaan tentang dunia, yang saat ini kita semua sedang berada didalamnya, yang saat ini tidak sedikit kita temui orang-orang yang ‘berjibaku’ buat bisa sekedar bertahan, atau boleh jadi demi mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta kekayaan, tetapi sesungguhnya hanyalah laksana seorang yang mencelupkan sebuah jari ke laut dan yang tersisa di jari demikianlah sebenarnya dunia.

Ada sesuatu yang teramat besar, yang seyogyanya mengharuskan kita berfikir keras dan ekstra tenaga dalam berusaha, karena nilainya lebih mulia dari dunia dan seluruh fasilitas yang ada didalamnya, tidak lain itulah yang disebut kehidupan di akhirat, satu harinya akan sebanding dengan ribuan tahun hari di dunia.

Mendapatkan kebahagiaan di dunia adalah sebuah keharusan, dan demikian yang Allah perintahkan dalam al-quran, tetapi hendaknya kebahagiaan itu tidak hanya di dunia saja, mereka yang ‘cerdas’ akan juga fokus buat ‘mendesign’ kebahagiaan untuk kehidupan selanjutnya, yaitu saat berada didalam kubur dan ketika dibangkitkan dihari akhir.

Maka mulailah ‘menata’ waktu secara adil sejak dini, demi mendapatkan dua kebahagiaan, mulailah ‘menimbun’ bekal buat perjalanan kehidupan selanjutnya, siapkan ‘kendaraan’, mulailah membayar ‘angsuran’ rumah mewah atau ‘istana’ yang megah yang berada di syurga.

Yang kita miliki saat ini sesungguhnya dariNya, bukan sebatas krn hasil kegigihan kerja yang kita lakukan, Allah memberikan keberlimpahan karena ingin memberikan kesempatan lebih kpd hambaNya untuk bisa melakukan banyak kebaikan sebagai ‘tabungan’ kehidupan selanjutnya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia, maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?”.
(QS. Faathir :3)

Wallahu A’lam Bisshowaab.

Fotnote hadits: Kitab Sunnan At-Tarmidzi