Mengapa kita harus masuk islam lagi?

Mat sikil masih bingung dengan prosesi masuk islam dirinya yg dipandu langsung oleh sang mursyid, kyai alim|

“Kenapa yayi? Saya ini terlahir sudah muslim, kenapa harus di islamkan lagi?”

“Kil, kamu tau kenapa kita bisa bertemu di alam dunia ini? Karena dulu kita ini bertetangga di alam ruh, ruh semua manusia itu bersepakat mengakui bahwa Allah adalah Robb kita. Lalu masing2 kita mulai menjalani kisahnya masing2, kamu dengan seluruh peristiwamu dan begitu juga aku. Sadarkah kil, selama peristiwa itu berlangsung ada banyak kondisi yg melemahkan keberislaman kita, bukan soal ucapan syahadat, tp soal komitmen keberislaman, lisanmu sudah berapa sering berdusta, membantah, menyakiti? Hatimu? Tanganmu? kakimu? Syarafmu? Otot-mu? Sel-selmu? Pembuluh darahmu? Jantungmu? Livermu? Ginjalmu? Aaah…

Kamu tau quantum ‘akasyah kil? Sebuah testimoni do’a yg membreakdown kesalahan diri di hadapan Gusti Allah Yang Maha Agung. “Ya Allah bila engkau dapati lisanku berdosa, maka ampuni lisanku, aku bertaubat dan aku kembali mengucapkan dua kalimat syahadat”

Laah ribuan ‘ulama dan auliya telah mengamalkan quantum ‘akasyah, sementara kamu kil, sibuk membroadcast nasehat-nasehat kebenaran seolah2 dirimu itu paling leres. Kamu tau kil, kalau kita foto bersama dgn teman2 lalu foto itu kita cetak, gambar siapa yg pertama kali kita cari, gambar kita toh? Apa kamu nda lelah bercermin kil, mematut2 diri, lalu sibuk memuji diri lalu menampilkan kpd publik utk mendapat pujian, “wuiih, dp-mu top banget ya kil” lalu belum setengah jam kamu akan ganti dp-mu lagi.

Kil, ketika imam Ghazali mendapati cerminnya jatuh dan pecah, ia berkata: “saatnya telah tiba, aku diingatkan untuk tdk sibuk memuji diri”.

Mat sikil menangis sesunggukan, lalu mendongakkan kepala hendak mengucapkan terima kasih, tapi sang kyai sudah raib, hanya suara umpatan khas milknya yg terdengar….