Hidup itu Pilihan.

Kyai Alim itu belum terlalu tua, tapi masyarakat miskin di perkampungan kumuh dekat Pembuangan Sampah menganggapnya seperti orang tua; arane bocah enom sing waskit O:)

Kebiasaannya berkain sarung tiga warna (hitam, coklat dan putih) dengan kaos oblong yang seadanya serta jari yg kerap mengapit rokok marlboro light menthol mudah dikenali oleh penduduk desa.

Setiap kyai alim rawuh ke desa mereka, burung2 gereja pun bersiul senang, kyai alim teko gowo rezeki, sekedar sembako sepekan membuat mereka kesenangan. “Matur suwun yayi, kami ini sebenarnya nda mau disebut miskin, tapi yaa, nasibe sudah seperti ini, mau dibilang apa?

Hehehehehe😀 kalian itu keliru kalau bilang miskin itu nasib, laah delo’en iku si parjo, awalnya sama dgn kalian toh, tp sekarang sdh naik jabatan dia, supervisor pengelolaan sampah, sebentar lagi jadi manager lalu GM, lalu boleh jadi Owner.

Hmmm begini teman2, terlahir miskin itu taqdir menjadi kaya itu pilihan. Nah sekarang, kalian pilih kaya opo tetap miskin?

“Hehehe iya yayi, maunya sih milih kaya, tapi masih bingung, dari mana mulainya?” Jawab tukijo, warga deso yg sdh 15 th jadi pemulung.

Pikiranmu, ngonowae bingung! Begini, orang kaya itu bedanya sama si miskin cuma telu; carane meroso, carane berfikir lan carane bertindak. Sampeyan iku kalau ketemu wong sugih mesti isin toh, alesane pakewuh. Keleruuuuu iku… Mulai sekarang cobalah bersikap elegant, kemuliaan diri kalian itu dilihat dari sikap kalian, lha wong predikat miskin saja sudah mulia, bedakan miskin sbg kondisi dgn miskin sbg thoriqoh. Kalian ini sdh kondisi miskin thoriqohnya miskin, hakekatnya miskin juga, mesa’keeeee:D

Kemiskinan itu kemuliaan para sufi, ibrahim bin adham meninggalkan kekayaannya lalu memilih miskin, al-ghazali juga menanggalkan jabatan rektornya lalu memilih miskin. Lah kalian nda perlu meninggalkan kemiskinan krn sudah miskin toh.. Di luar sana bnyk orang sugih tapi bermental miskin, kalian bisa jadi orang miskin bermental sugih.

Coba perhatikan atlas! Dgn mudah kita bisa melihat teritori dunia lintas benua lengkap dengan budaya masing2, ada Barat ada Timur.

Pada ranah yg lebih kecil, di setiap bagian bangsa itu ada juga budaya kaya dan miskin meskipun si bangsa itu mengakunya tdk memakai sistem kelas atau kasta🙂

Kebudayaan yg klasikal ini memang kadang2 memprihatinkan. Penamaan Joni dan Jono, panggilan mami dan mbok benar2 secara kasat mata telah menorehkan style budaya yg jumpalitan.

Tapi sebenarnya siapa yg menyematkan budaya timur barat atau miskin-kaya? Entahlah, dalam praktek-nya budaya itu benar2 menempati pilihan hati dan karakter personalmu!

Kadang-kadang orang barat sangat timur, kadang-kadang orang timur sangat barat. Kadang-kadang orang barat sangat sosial, kadang-kadang orang timur sangat individualistis. Padahal ada kategori-kategori baku bahwa barat itu individualistis, bahwa timur itu suka gotong royong dan kolektif. Ternyata dalam prakteknya bisa terbalik sama sekali.

Budaya orang kaya yg berpendidikan itu mestinya harus lebih arif dan sabar, tapi nyatanya ya banyak wong sugih yang jutek dan petantang-petenteng. Orang kaya pantas sombong katanya, nyatanya si miskin yg jumawa juga akeh :s

Mari bawa ke ranah personal, bukan soal barat-timur, bukan soal kaya-miskin tapi soal kematangan hatimu berinteraksi dengan harta atau kasta! Di sinilah kejernihan spiritual memainkan perannya yg liat O:)

Muliakan dirimu dengan memuliakan manusia jangan terganggu dengan penampilannya yg membuatmu tersinggung, bahkan pelacur hina saja masih dirahmati sehingga masuk syurga, mengapa harus nyalang dgn kyai yg jarinya mengapit marlboro menthol light? Baru mengapit saja sudah diseneni opo meneh menghisap :-s