Hidup seperti jarum suntik

Kyai Alim mampir ke rumahku, ia memilih duduk2 di sudut taman depan rumah kecilku. Lalu terdengarlah ocehannya, suaranya parau, karena semaleman ini sdh menghabiskan 3 bungkus marlboro light menthol dan 7 gelas kopi putih:

“Hidup itu seperti jarum suntik. Puncak rasa sakitnya justru terjadi tepat ketika ia belum nancep di pantat. Setelahnya: ”Ooo gini doang.”

Kita, tidak pernah diberi tahu akhir kehidupan ini kan? Kiamat kapan terjadi? Yang bisa jawab hanya keimanan kita. Yang berdebat kusir mencari tahu kapan kiamat sih gak kurang-kurang, coba saja searching di search engine, pasti banyak. Tapi ngapain juga ya ngomongin kiamat, lah, Tuhan itu cuma minta kita percoyo.

Kyai Alim melanjutkan ocehannya:
Hidup yg katanya menakutkan dengan banyak ujian, tekanan, masalah, persis kaya jarum suntik, mengerikan di awalnya saja, padahal kalau sudah dilewatin mah, enjoy aja.

Kyai Alim menoleh kepadaku dan bertanya: Coba diingat2, sepanjang hidupmu, sudah berapa kali kau mendapat ujian yg beratnya membuat kamu sampai gak bisa tidur?

Aq berusaha mengingat bagian paling berat dalam hidupku, tapi mendadak kyai Alim lompat ke kolam ikanku dan membuat ikan koi berlompatan! “Ayoo jawaab!” Kyai Alim teriak sampai beberapa santri terkejut lalu berdatangan. Aku terkejut setengah mati membuyarkan semua memoriku.

“Kamu gak usah jawab! Lihat sekarang kondisimu, sih iso ngadek, sih iso nafas, sih urip. Iku artine awakmu kuat, awakmu dudu sing otot kawat balung besi, ning Gusti Allah paringi mentalitas sing tangguh. ojo lali syukur, endasmu!”

Huuuffft..kena damprat euy :s

Kyai Alim menepuk2 pundakku lalu membisikkan kalimat terakhirnya sblm mninggalkan rumahku: “rahi-ku koyo pantatmu!” Hah?.. Aq langsung bilang, “keleru kyai”. Uppss..kyai misuh2 lalu mengulang kalimatnya: “pantat-mu koyo rahi-ku”. Hayyaah…gubrag X_X

Kyai Alim gak pake pamit, hanya bilang, aq datang lagi nanti ba’da subuh. enteni aq:(