Jangan berbohong kpd anak

Mat sikil mengadu ke gurunya, wajahnya tampak seperti orang yg merasa bersalah, ia menceritakan kejadian pagi tadi:

“Anu pak Yayi, tadi pagi aq di tegur sama Parjo anakku yg baru berusia 8 tahun….”

Peristiwa td pagi begitu terbayang…..

“Bapak sholat apa?” Tanya Parjo
“Sholat dhuha joo…” Sahut aq
“Sholat dhuha kok pake qunut pak” tanya Parjo polos
“Ups…anu ndu, krn bapak ada keperluan mendesak, jadi dhuhanya pake qunut, anu nambah2 do’a, gitu nak” jujur…aq sadari lbh keliatan membela diri ketimbang menjawab pertanyaannya Parjo.
“Ooooo..” Parjo melengos dan pergi

Kyai Alim menghela nafas panjang lalu bertutur: “Kil…suatu hari Kanjeng Nabi Muhammad berjalan dgn para sahabat, beliau melintasi sebuah rumah dan secara tdk sengaja mendengar obrolan seorang ibu dan anaknya yg sdg menangis, “Sudahlah nak, kamu diam, nanti sore ibu janji memberi kamu, sebutir korma yg lezat”. Kanjeng Nabi menghampiri sang ibu lalu berkata: “ibu…cukup bagimu dicatat sebagai dosa karena berdusta, bila sore nanti engkau tdk memberi korma lezat yg kau janjikan,”

Hiks..hiks…hiks😥 Mat sikil menangis, “Laah, aq sdh membohongi anakku ya pak kyai? Pantes dr td aq gelisah saja, bahkan aq merasa lbh salah ketimbang salahku karena qodho sholat subuh”

“Kil, mendidik anak itu perlu dengan contoh, kita ini tauladan bagi mereka, bagaimana mereka akan menjadi si jujur yg mengakui kesalahannya, bila kita mengajarkannya dgn dusta. Sungguh, tdk ada pemberian yg terbaik dr orang tua kpd anaknya kecuali pekerti yg baik,”

Intinya: jangan sekedar mencari tauladan, tetapi jadilah tauladan