Mat sikil seperti abdi dalem menerima titah sang raja saat kyai Alim menyampaikan materi ma’riifatun nafs (mengenal diri) dalam majelis gila yg digelar pada setiap purnama di kampungnya.

Mat SiKil lan sedoyo muridku…. Dengarkan dan fahami kata2ku ini….

Coba engkau diam, maka lisanmu terkatup, tetapi selftalkmu akan berkerja, ini awal kerja dzhonn atau asumsi atau persangkaan, kini perhatikan selftalk-mu itu negatif atau positif?

Tahan sebentar, biarkan selftalkmu berhenti! Sulit? Yaa, berdamailah, karena usia selftalk itu sudah sangat lama, boleh jadi ia sudah menguasai seluruh jaringan syaraf berfikirmu.

Fahami diam-mu, diam sediam-diamnya, larut saja dalam semesta yg tak berhenti gerak, merendahlah bukan dengan persangkaanmu, engkau hanya kaca, bukan cahaya.

Jangan dulu berfikir menjadi si sholeh, si benar, si baik, lha wong menjadi dirimu saja susahnya setengah mati! Kamu sudah mengenal baikkah siapa dirimu? Man anta (siapa kamu) min ayna anta (dari mana kamu berasal) kayfa anta (bagaimana kamu tercipta) fii ayna anta (dimana kini kamu berada) ila ayna anta (kemana kamu akan menuju).

Lelahmu kini, tafakkuri sebagai titik lemahmu, kau larut dalam sebuah skenario agung yg selalu menghendaki kebaikan, jadi bila ada keburukan terjadi itu bukan Dia menghendakinya tapi engkau memilihnya dengan seluruh kesadaranmu berada pada pilihan yg ditawarkan; wa hadainihu an-najdain.