حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصٍ قَالَ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنِى إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنِ الْحَجَّاجِ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَبْغِىَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ ».

Dari Iyadh bin Himar ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian bersikap rendah hati, hingga seseorang tidak berbuat aniaya kepada orang lain, dan seseorang tidak berlaku sombong kepada orang lain”. (HR. Abu Dawud : 4897)

Tawadhu’ (rendah hati dan tidak sombong) adalah sebuah sifat mulia, mereka yang memiliki sifat ini selalu disenangi banyak orang, disenangi para penghuni langit dan teristimewa sifat ini juga sangat disenangi oleh Yang Maha Rachman, para Nabi dan orang2 sholih terdahulu menjadikan tawadhu’ sebagai ‘pakaian’ mereka dalam keseharian.

Tawadhu’ teramat mudah diucapkan, tetapi pada prakteknya sangat sulit dan perlu ‘latihan’ yang terus berulang-ulang, karena kecenderungan manusia adalah ingin menjadi orang yang mempunyai banyak kelebihan dan pada akhirnya bila merasa telah memilikinya, akan dengan mudah sekali memandang sebelah mata yang lainnya.

Karakter seperti tersbut diatas sudah kerap diceritakan didalam al-quran, bahkan langsung Allah sebutkan nama-nama pelakunya, hal ini membuktikan bahwa bila tak pandai mensyukuri karuniaNya maka akan lahirlah orang2 sombong yang ‘memamerkan’ kelebihan yang mereka miliki dan menganggap dirinya mendapatkan karunia tersebut karena jerih payahnya.

Fir’aun, Haman dan Qorun adalah nama2 yang disebut didalam al-quran sebagai para pendurhaka, kelebihan yang mereka miliki membuat mereka sombong dan merendahkan terhadap orang lain dan bahkan mereka ‘sombong’ terhadap Allah.

Sesungguhnya semuanya dari Allah, dan sebagai ungkapan terima kasih kepadaNya atas segala karunia dan kelebihan yang dimiliki adalah dengan mensyukurinya dan tetap berlaku rendah hati, bukan malah sebaliknya.

فَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni`mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni`mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS. Azzumar : 49)

Apapun ni’mat yang Allah berikan kepada kita maka sesungguhnya itu adalah bentuk kasih sayangNya dan kewajiban kita buat terus bersyukur dan semakin berusaha ‘dekat’ denganNya, tetapi bila merasa bahwa mendapatkan karunia, berupa apapun dan beranggapan bahwa mendapatkannya karena kepandaiannya semata maka ketahuilah sungguh itu merupakan ujian dariNya.

Bila tak pandai menyikapi, maka akan terbentuklah karakter2 jumawah dan hanya ingin didengar dan tanpa mao mendengar, begitulah mereka yang tak mampu dan belum siap mendapatkan karunia dari Pencipta Semesta.

Didalam al-quran bahkan Allah menceritakan betapa Luqman berpesan khusus kepada anaknya untuk menghindari sifat sombong, karena beliau tahu betul Allah membenci sifat sombong lagi membanggakan diri.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (krn sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 yang sombong lagi membanggkan diri” . (QS. 31 : 19)

Bersahaja sajalah dalam berbagai urusan dan kelebihan yang kita miliki, karena apapun yang sedang kita banggakan saat ini sesungguhnya datang dariNya, dan Dia berkendak atas segala, termasuk menghinakan mereka yang merasa mulia dan memuliakan mereka yang sekarang sedang dihina.

Wallahu A’lam Bisshowaab.