حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلاَّمٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ – يَعْنِى ابْنَ هَارُونَ – أَخْبَرَنَا حَمَّادٌ – يَعْنِى ابْنَ سَلَمَةَ – عَنْ ثَابِتٍ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ صلى الله عليه وسلم

Dari Mutharif dari ayahnya dia berkata; saya melihat Rasulullah SAW mengerjakan shalat, sedang dalam dada beliau terdengar bunyi seperti batu penggiling gandum karena tangisan beliau Sholallahu Alaihi Wasalam .” (HR. Abu Dawud : 904)

Kemarin seluruh ummat Islam diingatkan oleh sebuah peristiwa dahsyat yang pernah terjadi terhadap manusia agung, manusia penuh teladan, manusia yang membuat banyak orang ‘tergila-gila’ buat bisa berjumpa dengannya, kala terjaga atau sekedar disambangi dalam impian saat ‘disekap’ malam, peristiwa Isra dan Mi’raj yang dialami oleh nabi Sholallahu Alaihi W asalam menunjukan keistimewaan kedudukannya disisi Pemilik ‘Arsy.

‘oleh-oleh’ perjalanan penuh hikmah yang dialami oleh nabi Sholallahu Alaihi W asalam dalam Isra dan Mi’raj adalah sholat lima waktu, sebuah perintah yang khusus Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam dapatkan langsung ketika ‘bertatapan’ dengan yang Maha Mulia, bahkan berbagai riwayat menceritakan betapa angka lima waktu sholat melalui proses yang lumayan panjang karena awal mulanya berjumlah lima puluh waktu.

Sholat adalah Mi’rajnya orang yang beriman, mrk yg sdg sholat sesungguhnya sedang bertemu dengan Yang Maha Rachman, mereka sedang ‘bertamu’ ke sidratul muntaha, mereka sedang menjalin sebuah dialog mesra yang hakikatnya berbalut cinta dan ketaatan kepadaNya, mereka yang mendirikan sholat adalah manusia yang sedang diberikan kasih saying dariNya, karena keinginan sholat merupakan hidayah mahal yang Allah berikan hanya kepada hambaNya, terbukti tidak semua mereka yang ‘mengaku’ beriman mempunyai keseriusan dengan waktu sholat atau terbukti dengan banyak orang yang merasa tak berdosa ktk mengabaikannya.

Hadits mulia ini berkenaan dengan cara sholat Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam, semoga saya dan kita semua bisa menirunya, karena yang dicontohkan oleh kanjeng Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam adalah merupakan teladan yang ‘kudu’ ditiru biar benar mengharapkan kebahagian dunia dan akhirat.

Hadits ini teramat dahsyat, betapa sahabat mendengar ‘gemuruh’ didalam dada manusia mulia penuh pesona, beliau menangis dalam sholatnya, hal ini menunjukan bahwa sholat adalah sebuah momentum yang teramat sakral, terjadi suasana yang mengharu biru dalam sholat beliau, betapa tidak, sholat adalah kesempatan ‘mahal’ yang Allah persilahkan kepada setiap hambaNya buat ‘menghadap’ kepadaNya secara khusus, tidak ada orang lain yang menghalangi termasuk malaikat2 suci penghuni langit.

Kekuatan cinta memang akan membuat mudah airmata membasahi wajah, al-quran menceritakan betapa Nabi Ya’kub menangis dan dilanda kesedihan karena berpisah dari nabi Yusuf putranya, bahkan tangisan kesedihannya sebabkan kebutaannya, maka terlebih seharusnya kecintaan kita kepada Yang Maha Mulia, lima kali dalam sehari adalah waktu yang teramat sedikit buat ‘meluapkan’ kerinduan kepadaNya, maka nikmati pertemuan itu dengan sepenuh hati, agar ketika sholat terjadi maka seperti yang telah Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam contohkan dalam hadits ini.

Berapa kali tertumpah airmata kita buat urusan dunia, mungkin sudah tak berbilang rasanya, maka berlaku adillah, ‘hadiahkan’ airmata dalam setiap ‘perjumpaan’ kita denganNya sebagai bukti benar tersimpan cinta didalam dada dan bukan sekedar menggugurkan perintahNya saja.
Maka sempatkan buat merenungi firmanNya surat Maryam 54-58 dibawah ini, dan rasakan benar seakan sedang ‘dibisiki’ olehNya :

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آَدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bershalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.

Wallahu a’lam Bisshowaab.