حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ مَوْلَى بَنِى هَاشِمٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُثْمَانَ الْغَطَفَانِىُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ خَرَّبُوذَ حَدَّثَنِى شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَقُولُ عَمَّمَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَسَدَلَهَا بَيْنَ يَدَىَّ وَمِنْ خَلْفِى.

Sulaiman bin Kharrabudz berkata, telah menceritakan kepadaku Syaikh dari Madinah, ia berkata, “Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Auf berkata, “Rasulullah SAW telah memasangkan imamah untukku, lalu beliau menjuntaikan ujung-ujungnya ke bagian depan dan belakangku.” (HR. Abu Dawud : 4081)

Memakai imamah (meletakkan sorban diatas kopiah) hukumnya sunnah, yang berarti siapa saja yang memakainya maka akan mendapatkan pahala dan meninggalkannya bukanlah sebuah dosa, siapapun boleh menggunakan imamah karena mengikuti jejak Nabi Sholallahu alaihi Wasalam memang sebuah keharusan, karenanya tak layak seseorang melarang orang lain yang memakainya.

Pakaian menunjukan identitas pemakainya, memakai imamah membuktikan ‘keseriusan’ seseorang untuk ‘meraup’ sebanyak-banyaknya peluang pahala, sehingga tentulah si pemakai imamah adalah orang yang harus konsisten menjaga simbol2 agama dan kesalehan, mereka telah memilih jalan menjadi manusia istimewa dihadapanNya, sikap mereka harus selalu terjaga dari dosa, dan bukan sekedar penampilan dan ‘mengelabui’ orang2 yang melihatnya.

Hadits diatas difahami oleh sebagian ulama dengan sebuah kekhususan dalam memakai imamah, seseorang yang memakai imamah harus mendapatkan ‘restu’ dari guru yang mengajarkannya, seperti Abdurrachman bin Auf langsung dipakaikan oleh Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam, tidak sekedar memakai sesuka hati dan kemudian melepaskan sesuka hati juga, bahkan dikalangan orang2 sholih terdahulu imamah menunjukan kedalaman ilmu seseorang, setiap lipatan dan model imamah yang dipakai menyesuaikan disiplin ilmu yang mereka kuasai.

Tentulah ini sebuah ijtihad yang tetap harus diberikan apresiasi, karena bertujuan hendak menjaga nama baik agama dan menjaga nama baik pemakainya, agar ‘kewibawaan’ Islam tetap terjaga dan tidak mudah tercoreng dengan oknum2 yang ingin mengambil keuntungan dengan pakaian yang digunakan tetapi tidak menyesuaikan dengan perbuatan.

Mengikuti sunnah Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam adalah sebuah kemuliaan dan hendaknya menjadi cita-cita setiap orang, karena semakin melakukan setiap sunnah dari beliau maka semakin dekat dengan Allah, dan pada akhirnya pakaian keseharian yang dikenakan adalah pakaian ketaqwaan.

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi aurat kalian dan untuk perhiasan bagi kalian, tetapi pakaian ketaqwaan itulah yang lebih baik. Demikianlah tanda-tanda kekuasaan Allah supaya mereka selalu ingat’. (QS. Al-A’raf : 26)

Pakaian ketaqwaan bukan hanya menutupi tubuh luar saja, tetapi juga akan ‘menyelimuti’ hati dari segala sifat tercela, mereka akan tampak indah disetiap keadaan lantaran busana yang mereka kenakan, dan mereka akan diliputi pesona kemuliaan dimanapun berada karena hati mereka selalu mengingat Allah Jalla Jalaaluh.

Wallahu A’lam Bisshowab.