حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا الأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِى بَيْتِهِ

Dari Abu Barzah Al Aslami ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Sebab siapa saja yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Maka siapa saja yang Allah telah mencari-cari kesalahannya, Allah tetap akan menampakkan kesalahannya meskipun ia ada di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud : 4882)

Hadits diatas merupakan informasi langsung dari nabi Sholallahu Alaihi Wasalam bahwa adanya kenyataan yang tidak terbantahkan perihal orang yang beriman hanya sebatas dengan lisan, mereka ‘percaya’ kepada Allah hanya tampak dipermukaan saja, sedangkan hatinya sama sekali belum beriman, lisannya saja yang mempublikasikan keimanan, tetapi perbuatan masih teramat jauh dari ajaran agama, (wal ‘iyadzu billahi).

Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam berpesan khusus kepada mereka— yang beriaman dilisan saja– agar tidak mengumpat dan mencari-cari kesalahan seorang muslim, karena setiap muslim sejati pasti di ‘back up’ Allah, sehingga bila mereka tetap melakukan larangan pada hadits ini maka Allah akan membalas dengan menampakkan kesalahan yang mereka lakukan kendatipu mereka ‘berlindung’ dibalik dinding rumah mereka, tak ada yang bisa menghentikan ‘kemauan’ Allah, bila Dia berkehendak maka HARUS terjadi.
Setiap muslim bersaudara, tak layak mereka mengumpat saudaranya, terlebih mencari-cari kesalahan, justeru harusnya saling mengasihi dan menyayangi, saling menasihati akan kebenaran dan berlaku sabar dalam menghadapi setiap keadaan, baik suka maupun duka, karena manusia tak luput dari salah dan lupa, menasihati saudara adalah pembuktian cinta dihati dan bukan dengan mengumpat atau sengaja mencari cela saudaranya.

Yang diseru dalam hadits ini adalah orang2 yang ‘berdusta’ dalam keimanan mereka, sedangkan orang2 yang beriman kepada Allah dengan lisan, dengan hati dan diwujudkan dengan perbuatan ‘terbebas’ dari pesan Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam pada hadits ini, karena keimanan mereka yang ‘kaaffah’ akan memproteksi mereka dari segala perbuatan tercela, mereka akan selalu menebarkan kedamaian, mereka akan selalu mendatangkan kebahagiaan dan mereka akan selalu dalam bimbingan Allah dalam perbuatan keseharian mereka.

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Maka selaraskanlah ucapan, hati dan perbuatan dalam beriman kepadaNya, dan rasakan Dia akan membimbing disetiap waktu dan keadaan, tak pantas membiarkan diri larut dalam kesalahan bila benar mengaku beriman kepadaNya, seperti tak pantas bersedih karena urusan dunia yang kini sedang dihadapi, karena ada perkara besar yang sudah menanti, yaitu saat kita kembali dan hanya sendiri.

Berbuat baiklah selagi kesempatan itu ada, hingga akhirnya tak ada ruang buat mengumpat dan apalagi mencari-cari kesalahan saudara.

Bila masih tak mampu lepaskan diri dari mengumpat dan mencari-cari salah saudara, maka bersedihlah, bila perlu segera pasang bendera ‘setengah tiang’ dihati, karena iman yang dimiliki hanya sebatas lisan dan tak pernah ada di hati, bukankah pendusta namanya, dan bukankah setiap pendusta hanya pantas berada dalam kobaran api neraka nantinya?

Wallahu A’lam Bisshowaab.