Satu Kubur Dengan Beberapa Mayit

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِىُّ أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ الْمُغِيرَةِ حَدَّثَهُمْ عَنْ حُمَيْدٍ – يَعْنِى ابْنَ هِلاَلٍ – عَنْ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ جَاءَتِ الأَنْصَارُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالُوا أَصَابَنَا قَرْحٌ وَجَهْدٌ فَكَيْفَ تَأْمُرُنَا قَالَ « احْفِرُوا وَأَوْسِعُوا وَاجْعَلُوا الرَّجُلَيْنِ وَالثَّلاَثَةَ فِى الْقَبْرِ ». قِيلَ فَأَيُّهُمْ يُقَدَّمُ قَالَ « أَكْثَرُهُمْ قُرْآنًا

Dari Hisyam bin ‘Amir, ia berkata; orang-orang Anshar datang kepada Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam pada saat perang Uhud kemudian berkata; kami telah tertimpa kekalahan dan kesusahan, maka apakah yang anda perintahkan kepada kami? Beliau bersabda: “Galilah lubang yang lebar dan masukkan dua atau tiga orang dalam satu kubur!” Beliau ditanya; siapakah yang didahulukan? Beliau bersabda: “Orang yang paling banyak hafal Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud : 3217)

Hadits ini berkenaan dengan hukum dibolehkannya menguburkan beberapa mayit didalam satu tempat, dan terjadi pada masa Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam saat banyak sahabat yang berguguran di perang Uhud, Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam pada hadits ini memerintahkan sahabat untuk menggali lubang yang lebih luas untuk dimasukkan beberapa mayit dari para syuhada uhud.

Mereka yang diceritakan dalam hadits diatas adalah para pejuang Islam yang sudah digaransi dengan syurga dan semua kenikmatan yang tersedia didalamnya, bahkan Allah ‘mengistimewakan’ mereka dengan menceritakan di dalam al-Quran bahwa mereka tidak mati, mereka sesungguhnya tetap hidup dan mereka diberikan rizqi, begitulah balasan orang-orang yang telah rela ‘bertaruh’ nyawa demi agama.

Ada bagian menarik yang ingin saya singgung dalam hadits ini, yakni ketika para sahabat bingung untuk meletakkan posisi mayit yang akan dimasukkan kedalam kubur, siapakan diantara mereka yang harus didahulukan?, Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam menjawab dengan tegas, yaitu yang paling banyak mempunyai hafalan al-Quran.

Maha Suci Allah, semua mayit yang akan dikuburkan sudah dijamin sebagai penghuni syurga, tetapi hadits ini menjadi indikasi kuat akan ‘penghargaan’ Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam kepada siapa saja yang mempunyai hafalan al-Qurannya yang lebih banyak untuk mendapatkan prioritas dari yang lainnya.

بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Sebenarnya, (al-Quran) itu adalah ayat2 yang jelas di dalam dada orang2 yang (mereka) diberikan ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat2 kami melainkan orang2 yang zalim” ( QS. 29 : 21)

Firman Allah ini sebagai penguat tentang keutamaan ‘menyimpan’ ayat2Nya didalam dada, karena mereka meyakini akan keutamaan dan kedudukan yang begitu mulia disisiNya.

Masih ada kesempatan yang tersisa, buat manfaatkan waktu ‘merekam’ firmanNya dalam memori kita, boleh jadi tak semuanya ‘tersimpan’ didalam dada, tetapi berusaha menghafalnya semampunya adalah sebuah bukti nyata keinginan kuat buat menjadi keluarga Allah.

Menjadi ‘keluargaNya’ adalah hadiah yang kelewat berharga, melebihi kesusahan ketika menghafal firmanNya, rasanya tak ada alasan yang bisa diutarakan untuk melewati hari tanpa menghafal firman suciNya kendati hanya beberapa ayat, bila memang benar berharap kebahagiaan di dunia dan setelahnya.

Wallahu A’lam Bisshowaab.

÷ dikutip dari Kitab Sunan Abu Daud÷