Keluar Rumah ‘Ditemani’ Allah

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنِ الشَّعْبِىِّ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ مَا خَرَجَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ بَيْتِى قَطُّ إِلاَّ رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ ».

Dari Ummu Salamah ia berkata, “Nabi SAW tidak pernah keluar dari rumahku kecuali beliau melihat ke langit seraya berdoa: “ALLAHUMMA A’UUDZU BIKA AN ADHILLA AU UDHOLLA AW AZILLA AW UZALLA AW AZHLIMA AW UZHLAMA AW AJHALA AW UJHALA ‘ALAYYA (Ya Allah…  aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi dan membodohi atau dibodohi). (HR. Abu Dawud : 5096)

Pada hadits ini kembali kita akan meneladani manusia agung yang setiap ucapan dan perbuatannya selalu menyimpan hikmah, lelaki mulia yang penuh dengan pesona dan semerbak harum tubuhnya membuat para sahabat enggan bergeser jauh dari sisinya.

Pada hadits ini, Nabi SAW mengajarkan kepada setiap ummatnya untuk selalu ‘melibatkan’ Allah, hadits ini juga menunjukan betapa Nabi SAW memposisikan dirinya dihadapan Allah dalam ketidak berdayaan dan memang begitulah seharusnya kita mencontoh, hanya Dia yang Maha Kuat dan Maha Gagah, siapapun bukan apa-apa dan tak berarti apa-apa tanpa Dia, bahkan saat mata kita menyusuri setiap kata dalam tulisan inipun sesungguhnya karena pertolongan dan karunia dariNya.

Berharap penjagaan dariNya dari segala kejahatan makhlukNya adalah sebuah usaha yang niscaya, karena cuma Allah yang Maha Berkuasa atas setiap yang telah Dia ciptakan, tak ada yang melebihiNya dan tak ada yang menolak segala ketentuanNya.

Semakin mendekati akhir zaman, rasanya semakin sulit untuk menemukan orang baik dengan hati baik, hampir setiap saat kejahatan ‘mengintai’, hampir setiap hari disuguhkan dengan berbagai prilaku yang tidak bermoral, bahkan status sosial yang sudah sedemikian terhormat bukan sebuah jaminan untuk menunjukan ‘kesalehan’, tampak ‘manis’ diraut wajah, tetapi sesungguhnya menyimpan rencana jahat, tampak santun dalam bertutur tetapi ternyata sebenarnya rencanakan ‘tipuan’ dan menyesatkan.

Hadits hari ini menjadi solusi kongkrit dalam mengantisipasi segala ketakutan, kekhawatiran dan berbagai rencana jahat orang yang ditujukan kepada kita, Nabi SAW telah mencontohkannya, maka setiap keluar dari rumah, untuk urusan apapun dan apalagi ‘bersentuhan’ dengan beragam manusia dengan beragam karakter yang mereka miliki, maka awali denga ‘kepasrahan’ kepadaNya dan berharap dengan sungguh penjagaan dariNya.

Bila sudah melakukan seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW pada hadits diatas, rasanya tak beralasan untuk bersemayam kekhawatiran didalam dada, karena sebaik-baik pelindung hanya yang memiliki semesta, jangankan hanya satu makhluk, bilapun seluruh makhluk berencana jahat kepada kita maka tak akan pernah ‘menyentuh’ diri kita manakala Allah yang telah menjaga.

Manusia punya rencana, tetapi Allah yang Maha menentukan atas segala kejadian yang menimpa hambaNya, lakukan saja yang telah Nabi SAW ajarkan, maka nikmati penjagaanNya selalu menyertai disetiap waktu dan keadaan.

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلاً
رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلاً

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. Dialah Tuhan Masyriq dan Maghrib, tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, maka jadikanlah Dia sebagai Pelindung”. (QS. Al-Muzzammil : 8-9)

BersamaNya akan selalu hadirkan rasa aman, hilang gundah dan segala macam ketakutan, maka bila masih ada kegelisahan, kekhawatiran dan segala kesusahan dalam hidup ini maka segera sadari bahwa ada yang ‘salah’ dalam jalinan ‘hubungan’ antara kita dengan Pencipta kehidupan dan kematian.

Wallahu A’lam Bisshowaab.