“Tujuan Menuntut Ilmu”

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ أَبِى طُوَالَةَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairoh, dia berkata, telah bersabda nabi SAW: “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya ‘wajah’ Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud : 3666)
 
Menuntut ilmu hukumnya wajib, waktunya hingga mati datang menjelang, setiap ilmu yang dipelajari maka seharusnya ‘mengarahkannya’ untuk menuju keridhoanNya, semakin memacu setiap yang belajar untuk ‘pandai’ membedakan yang HAK dan yang BATHIL, sehingga ilmu yang didapat bukan hanya menghilangkan kebodohan, tetapi juga semakin menjadikannya sebagai ‘Ibadurrachman’.
  
“Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apapun bagi orang yang niatnya benar dalam menuntut ilmu”, demikian Imam ahmad bin Hanbal berpesan kepada semua muridnya, kebenaran dalam niat tentu harus diukur dalam perubahan amal kebaikan dihadapan Allah, niat adalah soal hati dan Allah yang paling berhak menilainya, tetapi sebagai ejawantah dari niat adalah sikap dan perbuatan sehari-hari, itulah mengapa Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam mengingatkan kepada kita semua bahwa Allah melihat hanya kepada hati dan perbuatan.

Ilmu apapun yang sekarang sedang ‘digeluti’, seyogyanya akan membentuk karakter Robbani, mereka akan menjadikan hadits ini sebagai pengingat setiap saat, bahwa tujuan menuntut ilmu adalah untuk menggapai kebahagiaan di akhirat, bila tujuan akhirat diutamakan maka kebahagiaan dunia PASTI akan ia dapatkan secara otomatis, tetapi bila sebaliknya maka aroma syurga tak akan pernah tercium olehnya apalagi merasakan nikmatnya.
 
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fathir : 28)
 
Ayat ini jelas menunjukan bahwa bila memiliki ilmu maka akan semakin ‘takut’ berbuat salah kepada Allah, karena ketakutan akan sangat tergantung dengan kadar pengetahuannya terhadap yang ditakuti, dan mereka yang memiliki ilmu maka akan mengenal Allah dan menimbulkan rasa takut bersalah dan juga pengharapan terhadapNya, ayat ini juga menjadi dalil bahwa orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dari ahli ibadah.
 
Pepatah arab : “LAW ‘ALIMA LA’AMILA” (seandainya dia mengetahui maka niscaya dia berbuat), ilmu akan menghantarkan seseorang dekat dengan Allah, bukan justeru menjauhkan, apalagi ‘memanfaatkan’ ilmu hanya untuk kesenangan dunia yang sementara dan berharap pengakuan dari manusia. Pengakuan yang tertinggi adalah dariNya, manakala semakin dekat kepadaNya dan tak ‘tergerus’ oleh nafsu dunia.
 
Wallahu A’lam Bisshowab.