rincian penjelasan tentang makanan haram

Al-Maidah ayat 3 sebagai berikut ;

“Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul,
yang jatuh, yang ditanduk dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya” [Al-Maidah : 3]

Dari ayat di atas dapat kita ketahui beberapa jenis makanan haram yaitu :

[1]. BANGKAI
Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram
dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab
pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi
kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sebagai berikut.

[a].Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja
atau tidak.
[b].Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras
hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.
[c]. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau
jatuh ke dalam sumur sehingga mati
[d]. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya [Lihat
Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir]

Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan
dan belalang berdasarkan hadits.

“Artinya : Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah.
Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan
limpa.” [Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11]

Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda.

“Artinya : Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” [Shahih. Lihat takhrijnya
dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11]

Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata dalam Silsilah As-Shahihah (no.
480): “Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu halalnya setiap bangkai
hewan laut sekalipun terapung di atas air (laut)? Beliau menjawab: “Sesungguhnya
yang terapung itu termasuk bangkainya sedangkan Rasulullah bersabda: “Laut itu
suci airnya dan halal bangkainya” [Hadits Riwayat Daraqutni : 538]

Adapun hadits tentang larangan memakan sesuatu yang terapung di atas laut
tidaklah shahih. [Lihat pula Al-Muhalla (6/60-65) oleh Ibnu Hazm dan Syarh
Shahih Muslim (13/76) oleh An-Nawawi]

[2]. DARAH
Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya :

“Artinya : Atau darah yang mengalir” [Al-An’Am : 145]

Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair. Diceritakan bahwa
orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka
dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu
digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar
dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan
darah pada umat ini. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24]

Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa
berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang
menempel pada daging atau leher setelah disembelih. Semuanya itu hukumnya halal.
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: ” Pendapat yang benar, bahwa darah yang
diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang
menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang
mengharamkannya”. [Dinukil dari Al-Mulakhas Al-Fiqhi 2/461 oleh Syaikh Dr.
Shahih Al-Fauzan]

[3]. DAGING BABI
Babi, baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh
anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan
dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama.

Hikmah pengharamannya karena babi adalah hewan yang sangat menjijikan dangan
mengandung penyakit yang sangat berbahaya. Oleh karena itu,makanan kesukaan
hewan ini adalah barang-barang yang najis dan kotor. Daging babi sangat
berbahaya dalam setiap iklim, lebih-lebih pada iklim panas sebagaimana terbukti
dalam percobaan. Makan daging babi dapat menyebabkan timbulnya satu virus
tunggal yang dapat mematikan. Penelitian telah menyibak bahwa babi mempunyai
pengaruh dan dampak negatif dalam masalah iffah (kehormatan) dan kecemburuan
sebagaimana kenyataan penduduk negeri yang biasa makan babi. Ilmu modern juga
telah menyingkap akan adanya penyakit ganas yang sulit pengobatannya bagi
pemakan daging babi. [Dari penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagaimana
dalam Fatawa Islamiyyah 3/394-395]

[4]. SEMBELIHAN UNTUK SELAIN ALLAH
Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram,
karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang
mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan
menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya ,
maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.

[5]. HEWAN YANG DITERKAM BINATANG BUAS
Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan
sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun
darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan
kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam
oleh binatang buas baik kambing, unta, sapi dan lain sebagainya, maka Allah
mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin.

Al-Mauqudhah, Al-Munkhaniqoh, Al-Mutaraddiyah, An-Nathihah dan hewan yang
diterkam binatang buas apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau
tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara
syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.

[6]. BINATANG BUAS BERTARING
Hal ini berdasarkan hadits :

“Artinya : Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan” [Hadits Riwayat.
Muslim no. 1933]

Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu
Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul
Muwaqqi’in (2/118-119).

Maksudnya “dziinaab” yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk
melawan manusia seperti serigala, singa, anjing, macan tutul, harimau, beruang,
kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan”. [Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh
Imam Al-Baghawi]

Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang
bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah
pendapat yang salah. [Lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I’lamul
Muwaqqi’in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani]

Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): “Saya tidak
mengetahui persilangan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak
boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak
mengetahui seorang ulama pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikian pula
anjing, gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja
bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
bukan pendapat orang….”.

Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas
yang haram ataukah tidak ? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal
sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i berdasarkan hadits.

“Artinya : Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang
musang, apakah ia termasuk hewan buruan ? Jawabnya: “Ya”. Lalu aku bertanya:
apakah boleh dimakan ? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau
mendengarnya dari Rasulullah ? Jawabnya: Ya. [Shahih. Hadits Riwayat Abu Daud
(3801), Tirmidzi (851), Nasa’i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar
dalam At-Talkhis Habir (1/1507)]

Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? !
Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/120) bahwa tidak ada
kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori
binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan)
manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul
Ahwadzi (5/411) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam At-Ta’liqat
Ar-Radhiyyah (3-28)

[7]. BURUNG YANG BERKUKU TAJAM
Hal ini berdasarkan hadits.

“Artinya : Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” [Hadits
Riwayat Muslim no. 1934]

Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234) “Demikian juga setiap burung
yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya”. Imam Nawawi
berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73: “Dalam hadits ini terdapat dalil
bagi madzab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang
haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung
yang berkuku tajam.”

[8]. KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)
Hal ini berdasarkan hadits

“Artinya : Dari Jabir berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang
pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”.
[Hadits Riwayat Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941]

Dalam riwayat lain disebutkan begini.

“Artinya : Pada perang Khaibar, mereka meneyembelih kuda, bighal dan khimar.
Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang dari bighal dan khimar dan
tidak melarang dari kuda” [Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa’i (7/201), Ahmad
(3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan
Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811]

Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :

Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari
kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits
shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal
dengan kesepakatan ulama. [Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani]

Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi’i,
Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits
shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang
sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha’ bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij:
” Salafmu biasa memakannya (daging kuda)”. Ibnu Juraij berkata: “Apakah sahabat
Rasulullah ? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam
As-Shan’ani]

[9]. AL-JALLALAH
Hal ini berdasarkan hadits.

“Artinya : Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk
dinaiki”. [Hadits Riwayat. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih]

Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang
dari memakan jallalah dan susunya.” [Hadits Riwayat. Abu Daud : 3785, Tirmidzi:
1823 dan Ibnu Majah: 3189]

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan
dagingnya ” [Hadits Riwayat Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul
Bari 9/648]

Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua
yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manusia/hewan dan
sejenisnya. (Fahul Bari 9/648). Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf
(5/147/24598) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan
kotoran selama tiga hari. [Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Hafidz dalam
Fathul Bari 9/648]

Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (11/254) juga berkata: “Kemudian menghukumi suatu
hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan
tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk
kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya…”

Hukum jalalah adalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi’iyyah
dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-‘Ied dari para
fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini,
Al-Baghawi dan Al-Ghozali. [Lihat Fathul Bari (9/648)]

Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya.
Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang,
maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya hahal secara yakin dan tidak ada
batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan (9/648): “Ukuran waktu
boelhnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut
hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.”.
Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar (7/464) dan
Al-Albani dan At-Ta’liqat Ar-
Radhiyyah (3/32).

… dst..

Semoga bermanfaat.