PUASA

“Saumu” (puasa), menurut bahasa Arab adalah “menahan diri dari segala sesuatu”seperti menahan

makan, minum, nafsu dan menahan berbicara yang tidak bermamfaat.”

Menurut istilah agama islam yaitu” menahan diri dari sesuatu yang membatalkan selama satu hari, mulai dari terbinya fajar sampai terbenamnya matahari dengan dengan niat beberapa syarat”

Firman Allah:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

(Al-Baqarah:187)

 Puasa ada empat macam:

  1.  Puasa wajib yaitu puasa di bulan Ramadhan, puasa kafat, puasa nadzar
  2. Puasa sunnah(nawafil)(1)
  3. Puasa makruh
  4. Puasa haram, yaitu puasa pada hari raya idul fitri, idul adha dan hari hari sesudah hari raya idul adha, yaitu 11.12.13

 

Pada bulan Ramadhan itu merupakan salah satu rukun Islam yang lima, diwajibkan pada tahun hijriah yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam. Hijrah ke Madinah. Dan hukumnya Fardhu ‘ain atas tiap-tiap mukallaf(balik dan berakal)

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam telah mengerjakan puasa Sembilan kali ramadhan, delapan kali 29 hari, satu kali 30 hari. Dalam hadits riwayat Bukhari  Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda: Bulan itu terkadang 30 hari, kadang-kadang29 hari.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.

[رواه الترمذي ومسلم ]

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.

(Riwayat Tarmidzi dan Muslim)

Puasa Ramadhan di wajibkan atas tiap-tiap orang mukallaf dengan salah satu dari ketentuan ketentuan berikut ini:

  • Dengan melihat bulan bagi yang melihatnya sendiri
  • Dengan mencukupkan bulan sya’ban 30 hari, bermaksud bulan tanggal sya’ban itu dilihat. Tetapi kalau bulan tanggal satu sya’ban terlihat, tentu kita tidak dapat menentukan hitungan, sempurna 30 hari.

Sabda Rasul:

َوَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ: ( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ ) . وَلِلْبُخَارِيِّ: ( فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ )

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari.” Menurut riwayat Bukhari: “Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari.”

  • Dengan adanya melihat (ru-yat) yang di persaksikan seseorang yang adil di muka hakim.

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat bulan sabit, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: ( إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا” ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ إِرْسَالَهُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang Arab Badui menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu berkata: Sungguh aku telah melihat bulan sabit (tanggal satu). Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah?” Ia berkata: Ya. Beliau bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah.” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Umumkanlah pada orang-orang wahai Bilal, agar besok mereka shaum.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, sesang Nasa’i menilainya mursal.

Dengan hadist diatas timbulah dua paham kesaksian melihat bulan Ramadhan itu. Sebagian ulama berpendapat cukup disaksikan seorang saja. Berarti apabila telah di persaksikan oleh seorang hakim bahwa ia telah melihat bulan, maka hakim boleh menetapkannya dan wajib mengumumkannya; masyarakat umum wajib berpuasa esok harinya.

Dan sebagian ulama lagi berpendapat bahwa kesaksian satu orang saja belumlah cukup untuk menetapkan awal masuknya bulan Ramadhan akan tetapi haru disaksikan oleh 2 orang yg adil, pendapa ini berdasarkan kepada hadis al-Haris tersebut.

  • Dengan kabar mutawatir yaitu kabar orang banyak sehingga mustahil mereka akan dapat sepakat dusta atau sekata atas kabar dusta.
  • Percaya pada orang yang melihat
  • Tanda-tanda yang bias dilakukan dikota-kota besar untuk memberitahukan kepada orang banyak(umum),
  • Dengan ilmu Hisab atau kabar dari ahli hisab(ilmu bintang)

َوَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah.”

(Muttafaq Alaihi)

 

Kata beberapa ulama, diantaranya yaitu Ibnu Syuaraidi Mutarrif dan Inu Qutaibah, yang dimaksud dengan kira-kira ialah di hitung menurut hitungan secara ilmu falak(ilmu bintang)

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak (2). Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”

(Qs.Yunus:5)

 

Sesungguhnya kalau kita perhatikan amal ibadah kita sehari hari di jaman kemajuan sekarang seprti waktu sholat  5 , seluruh umat islam di seluruh dunia sepakat untuk waktu(jam ) yang telah di tetapkan

Dalam jadwal waktu shalat,  menurut penyesuaian waktu waktu di tempat masing masing.  Misalnya

dzuhur di tentukan dengan condongnya matahari ke sebelah barat, ashar di tentukan dengan lebihnya bayang bayang badan, dst. Dan seluruh waktu tersebut ditentukan oleh nas syara(agama). Dengan ukuran perjalanan matahari.

Indahnya kebersamaan jika ukwah islamiyyah kita semua terjaga dan menyadari perbedaan –perbadaan itu bertujuan sama dan harus saling menghormati atas perbedaan itu.. Waa-Allahu alam.

Haddanallah wa iyyakum azmain

Assalamualaikum Wr. Wb

 jakarta, 26 juli 2011

(1).Ibadah tambahan sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Nabi.

(2). Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.