Allah Subhana Wa-Ta’ala berfirman menjelaskan hikmah penciptaan alam:

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِن بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِنْ هَـذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya(1), dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini(2) tidak lain hanyalah sihir yang nyata”

(QS.Hud 11:17)

Bagian ayat terakhir bermakna bahwa manusia dihadpkan kepada ujian besar yang kemudian menentukan nasibnya. sebagaimana dalam firman Allah:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga)”

(Qs.AN-Najm:31)

Dari ayat tersebut orang memperoleh pengertian yang jelas bahwa berbuat jahat akan menrima hukumannya, dan yang berbuat baik akan menerima pahala. Hal ini merupakan suatu keadilan yang tak dapat dibantah. Namun ada sementara orang yang mengatakan bahwa ujian itu adalah palsu dan hasilnya tipu daya belaka. Yang sebenarnyaterjadi ialah bahwasanya Allah telah menyediakan surga bagi orang-orang tertentu dan sebaliknya neraka juga di sediakan bagi orang-orang tertentu juga.

Allah menentukan semua urusannya menurut kehendaknya dan Allah juga menyembunyikan kehendaknya( kata bang Ali Nurdin @islam ktp Rahasia dibalik Rahasia). Allah berfirman

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

(172)

أَوْ تَقُولُواْ إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّن بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ

(173)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”(172) atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu(3)?”

(Qs. Al-Arraf: 172-173)

 

dengan adanya ayat yang menjelaskan soal itu, tak ada alasan apapun kelak yang dapat diterima ketika mempertanggungjawabakan semuanya. Akan tetapi walau ayat diatas telah jelas tidak sedikit orang yang keblinger mengatakan: ‘”tidak ada apapun juga selain Allah, tak ada perbuatan apapun selain Allah, jari-jari Allah berada di belakang segala sesuatu(Allahlah yang menggerakkan segala sesuatu)’astagfirullah”. Apa yang ada dalam jubah Allah adalah Allah, tidak ada maujud selain Allah. kita ini hanya maya dan segala yang kita perbuat adalah maya.

dalam hal demikian saya coba ambil contoh dari adanya kehendak Alam adanya kehendak ilahi dalam suatu persoalan. Adanya 2 kehendak alam dalam suatu persoalan itulah yang sering dilupakan orang dan di jadikan alasan oleh kaum Jabariyah(suatu paham yang mengatakan serba taqdir Allah) untuk menyalah artikan penafsiran ayat alqur’an.

kita lihat petani ganja atau tanaman narkotik dll. yang tertangkap dan dalam pengadilan mereka membela diri dengan mengatakan: ” Bagaimana saya harus bertanggung jawab atas tanaman yang di tumbuhkan oleh Allah? memang benar saya yang telah menanam bibitnya di tanah, tetapi siapakah yang menumbuhkannya hingga ia berdaun dan berbuah? bukankah Allah berfirman: “apakah kalian melihat benih yang kalian tanam? kalianlah yang menumbuhkannya ataukah aku yang menumbuhkannya?” banyak orang yang memecahkan masalah-masalah seperti ini dengan logika seperti itu  naudzubillah.

dalam contoh lain jika sesorang berangkat kemasjid ataupun ketempat maksiat, jantungnya berdenyut berdasarkan taqdir tuhan, susuna syaraf otaknya yang mengeluarkanperintah pada kaki-kaki supaya bergerak berdasarkan takdir tuhan. bumi yang di injak tidak di guncang gempa dan tidak lenyap karena kehendak tuhan; apakah karena itu semua berarti Allah yang mendorong orang itu untuk pergi kemasjid ataupun ingin berbuat maksiat? Tidak, sama sekali tidak! Manusia bebas berkehendak, dan manusia dipaksa oleh kehendaknya yang bebes itu dan dengan kehendaknya itu ia bebas menentukan yang benar ataupun yang buruk. tentunya jika kehendak itu memilih yang benar pasti memberoleh hasil dan balasan yang baik pula, Allah membantu manusia untuk memperroleh apa yang di kehendaki bagi dirinya dengan artian Allah menyempurnakan niat seorang manusia walaupun sepersekian detik(wallahu alam) Allah telah memperingatinya jikalau kehendaknya akan memilih perbuatan buruk. dalam 2 contoh tadi  jelas Allah yang menumbuhkan benih yang ditanam ditanah. dan tuhan jugalah yang menyempurnakan niat kedua orang tersebut untuk pergi kemasjid ataupun hendak berbuat maksiat. Dan semua itu Allah tidak menghilangkan tanggung jawab seorang manusia atas apa yang telah di perbuatnya.

Kemauan atau kehendak adalah suatu kekhasan istimewa yang secara kongkret memang ada pada manusia, dengan keistimewaan itu manusia di bebani amanah yang wajib dilaksanakan(taklif), dan dengan keistimewaan itu manusia dapat di bedakan ddari makhluik lain dari yang bernyawa ataupun yang tak bernyawa. dan dengan ke istimewaan itu pula manusia dapat meningkat-merosot dan dapat bersyukur dan dapat juga ingkar. (mudah-mudahan kita selalu menempuh jalan yang Allah ridhoi)

Hal diatas telah dibenarkan dalam Al Qur’an, dalam firman Allah:

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَاناً وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia

(Al-Muddatstsir:31)

dari membaca tafsir ayat diatas mungkin timbul pertanyaan siapa saja yang di sesatkan atau di beri hidayah; dalam firman Allah lain:

 

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu(4) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki

(Qs.Ibrahim:27)

dan banyak ayat lain yang menyebutkan hal diatas, dalam hal ini Allah bukan hendak menyesatkan dan menyiksa manusia atau menyesatkan orang-orang shaleh agar terjerumus azab hukuman, tidak, tidak sama sekali, jauh Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang dan maha adil berbuat menghendaki kejahatan. manusia memamfaatkan taqdir untuk menempuhjalan yang di pilih sendiri dengan bebas. dalam surah Al Muthaffiqin Allah berfirman:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

(Al Muthaffiqin:14)

demikianlah yang dilakukan Allah terhadap membantah tanda-tanda kekuasan-Nya, manusia bersifat sombong menghadapi kebenaran .

sebagai mana Allah menyesatkan orang – orang yang memang memilih sendiri jalan yang sesat, Allah pun memberikan hidayah kepada orang-orang yang yang ingin memperoleh hidayah. dalam firmannya :

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْواهُمْ

Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.(Qs.Muhammad:17)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya(5), di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam syurga yang penuh keni’matan.

(Qs.Yunus:9)

dan banyak lagi lainnya;

sekian hanya ini yang saya bisa tulis mudah mudahan bermamfaat bagi saya pribadi dan yang membaca agar selalu berpikir untuk memilaih jalan mana yang selalu mendapatkan ridho Allah Subhana Wa-Ta’ala agar hidayahnya selalu hadir dan membuahkan keberkahan bagi kita.

Wa-Allahu alam bishowab, Haddanallah wa iyyakum azmain

Assalamu’alaikum Wr. Wb

jakarta:26-07-2011

keterangan tambahan:
1: Maksudnya: Allah menjadikan langit dan bumi untuk tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.
2: Maksud mereka mengatakan bahwa kebangkitan nanti sama dengan sihir ialah kebangkitan itu tidak ada sebagaimana sihir itu adalah khayalan belaka. Menurut sebagian ahli Tafsir yang dimaksud dengan kata “Ini” ialah Al Qur’an ada pula yang menafsirkan dengan hari berbangkit.
3.Maksudnya: agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan orang-orang tua mereka itu.
4.Yang dimaksud “ucapan-ucapan yang teguh” di sini ialah kalimatun thayyibah yang disebut dalam ayat 24 di atas.
5.Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga

sumber ayat Al-Qur’an: http://quran.myquran.org/?