Masa senantiasa berganti dan menunjukkan selalu ada orang-orang yang mengisinya. Periode waktu menunjukkan bahwa adakalanya masa lampau dan ada pula masa yang datang. Kehidupan menyilihkan pergantian bagai siang menggeser malam. Islam, sebuah agama yang mulia dan tak ada yang mampu menandingi kemuliaannya. Islam senantiasa tetap
akan ada hingga akhir jaman dan menjadi salah satu agama yang benar dan diakui kebenarannya dari masa ke masa. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imraan : 85).

 

Telah berlalu jauh Islam dari masa keemasannya, masa yang memiliki penuh limpahan ilmu dimanapun dan kapanpun, menjadi masa yang diliputi oleh banyak kebodohan dan kesesatan lebih dominan dibandingkan dengan kebenaran dan kebaikan. Wafatnya para pewaris para Nabi yakni ulama telah menunjukkan pula hilangnya ilmu sedikit demi sedikit di atas bumi.

 

Generasi muda sebagai tumpuan dan harapan lebih banyak mengisi aktivitasnya mengikuti dunia. Pergerakan musuh Islam yang membocorkan perahu-perahu keimanan para pemuda itu menjadi semakin besar dan meluas. Sebaliknya, kelompok tua tak ada lagi yang mewarisi keimanannya kepada anak-anaknya. Sebab acapkali sang ayah mengajak anaknya kepada jalan keimanan, acapkali pula sang anak lebih memilih berada di jalanan.

Seiring dengan berjalannya waktu, lahirlah generasi-generasi Islam yang memiliki semangat dan mental berjuang kuat. Namun sangat disayangkan semangat dan mental tersebut jauh dari nilai-nilai kebenaran dan ilmu yang mendasarinya. Mental dan semangat keberanian itu pun sirna seiring dengan bertambahnya aktivitas. Gerakan tanpa ilmu pun berubah menjadi gerakan tak punya malu.

Disisi lain muncul pula generasi yang sama mudanya, sama usia dan tingkatan generasi serta bisa jadi satu madrasah menuntut ilmu ketika dahulu. Mereka-mereka muda usia namun jauh dari agama. Ketika kecil anjangsana ke beberapa TPA merupakan bagian yang wajib setelah ashar tiba. Masjid-masjid penuh dengan kicauan mereka semasa kecil saat maghrib tegak waktunya. Orang tua sempat kewalahan mengatur tindak-tanduk mereka yang berlarian kesana kemari dan berbicara saat sedang shalat sehingga acapkali terjadi para bapak berbicara dalam hati soal tragedi betapa anaknya sangat mengusik kekhusyukan di hati. Tapi kini, warung makan dan tempat tongkrongan adalah aktivitas rutin sepulang kuliah dan selepas kerja. Menunggu macet sirna lebih asyik menghabiskan waktu ditengah kota bersama meja-meja berwarna hijau dengan bola berat bernomor satu sampai delapan atau sembilan. Istilahnya melepas penat dan jenuh dibangku kerja. Hadirnya teman-teman mesra menjadi pelengkap sang bocah yang dahulu duduk tenang di TPA. Gagang stick dan korek api di saku menjadi teman setia cerutu yang selalu sambung-menyambung menjadi satu bagaikan pulau-pulau.

Tersadarlah dari kejenuhan sebagian diantara pemuda bangkit terbangun. Kehidupan bukan hanya di dunia saja, pasti ada sisi lain dari ini semua dan kenikmatan semu yang di punya. Tak punya pegangan dan pijakan yang benar dalam beragama maka justru berlari mendekatkan diri kepada praktik-praktik yang maksud hati baik, tapi apa daya syariat tidak mengizinkan sebagai suatu kebenaran.

Masjid-masjid yang dahulu ramai teriakan aamiin dan celotehan shalawat badar di speaker hingga memutuskan kabel sudah tak lagi ada. Beceknya tempat wudhu telah cepat mengering, karena yang bermain air saat ini telah bermain bensin. Sang orangtua sangat merindukan kekesalan disaat sang anak dahulu rajin menggelayut disarung dan memainkan kopiah sang ayah. Nakal, tapi itulah sebuah kerinduan. Sehingga tak ada yang bisa ayah banggakan dari sang anak lewat sisi agama melainkan hanya perkataan waktu kecil anak saya juga pernah belajar mengaji. Miris, tapi itulah realita. Terkadang berjalan bersama, terkadang berpisah tanpa cerita.

 

 

Generasi Baru, Generasi Ilmu

Sekarang, roda kembali berputar. Kejayaan Islam melalui keterwakilan eksistensi penarapan sunnah telah menjadi sesuatu hal yang mudah ditemui. Hakikat beragama yang mudah bila sesuai sunnah pun telah tumbuh dan sedang berbuah. Generasi muda yang baru, generasi muda penuh ilmu. Bukan generasi muda seperti sejawatnya yang lebih asyik menghisap dan bercandu. Generasi muda yang sadar betapa pentingnya agama dalam kehidupan mereka. Generasi yang senantiasa berkata sebagaimana perkataan seorang Imam yang pernah dibenci oleh kyai bapaknya.

Berkata Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi dalam Tsalatsatil Ushul, wajib bagi kalian mengilmui dalam hal ini mengenal Allah, mengenal Nabi, dan mengenal agama. Setelah itu beramal, berdakwah, dan bersabar terhadap rintangan yang datang menghadang atas kesemuanya.

Karena sejatinya agama ini mudah, tak seperti yang pernah dibayangkan sebelumnya.sebagaimana dikatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Agama adalah mudah dan tidak seorang pun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan”. (HR. Al-Bukhari (39), dan An-Nasa’i 5034). Hal ini juga diperkuat oleh firman Allah Ta’ala, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah 185).

Maka, seiring dengan berjalannya waktu, bertambah pula dari generasi muda ini untuk mengajak orang-orang yang berada di lingkungan mereka. Para pemuda ini memulai urusannya dari awal pada tataran keluarga, lalu ajakan pun melebar kepada teman sejawat, sahabat setia, teman seperjuangan, teman sepergaulan dan permainan dahulu, hingga berharap besar agar lingkungannya terbentuk menjadi lingkungan yang penuh dengan ilmu dan menjadi lingkungan sesuai dengan akidah yang shahihah serta sesuai manhaj nubuwwah diatas sunnah, begitulah istilahnya.

Terdorong dari sebuah hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari”. (HR.Al-Bukhari (69& 6125), dan Muslim(1734). Serta hadits berikutnya yang menyamangati kaum muda ini mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada unta merah, kendaraan mewah sepanjang masa. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu pada peperangan Khaibar : “ Majulah ke depan dengan tenang. Sampai kamu tiba ke tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Alloh Ta’ala yang wajib mereka tunaikan. Demi Alloh, sekiranya Alloh azza wa jalla memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh hal itu lebih baik (berharga) bagimu daripada memiliki unta-unta merah (unta-unta yang terbaik saat itu-pen) “ ( HR. Bukhari 3701 dan Muslim 2406 ).

Begitulah sebuah semangat yang didasari ilmu, berjalan melaju sebagaimana arah yang dituju. Harapan besar bertumpu pada sebuah usaha yang tak padam karena dukungan acapkali mendatangi majelis-majelis kajian yang sekarang ini sudah sangat berserakan penuh manfaat di seantero penjuru nusa. Generasi baru, generasi yang mendasari segala aktivitas kepada ilmu. Dan mempersilahkan kepada punggawa-punggawa muara ilmu untuk menuntun generasi ini diatas jalan kebenaran untuk menyongsong kejayaan. Karena inilah generasi yang mengambil warisan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh lapang dada dan sabar ceria. Merekalah anak-anak muda yang mengatur rencana ketika malam minggu tiba untuk menyelenggarakan majelis ilmu di keesokan paginya. Bukan anak-anak muda yang mengatur rencana bila malam minggu tiba untuk waktunya kunjungan pacar.

Anak-anak muda yang berharap menjadi tanah basah yang dapat menahan air sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Perumpamaan apa yang aku diutus dengannya berupa petunnjuk dan ilmu, adalah seperti hujan deras yang mengenai tanah. Di antara tanah tersebut ada tanah yang baik, bias menerima air dan menumbuhkan banyak rerumputan. Dan diantara tanah tersebut ada yang keras bias menahan air, maka Allah memberikan manfaat dengannya kepada manusia. Mereka bisa minum, menyiram, dan menanam. Hujan deras itu juga mengenai bagian lainnya lagi dari tanah tersebut. Tidak lain tanah tersebut adalah lembah rata dan halus yang tidak bisa menahan air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang aku diutus oleh Allah dengannya; dia tahu dan mengajarkan. Dan itulah perumpamaan orang yang berpaling dan tidak mengambil manfaat darinya serta tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari (79) dan Muslim). Panjanglah bila bahasan soal generasi muda penuh ilmu ini, generasi muda yang menyejukkan mata dan semestinya membuat iri pada anak-anak tetangga bagi sang empunya orangtua.

Generasi muda yang jika suatu saat ditanya sebagaimana pemaparan Muhammad bin Ismail Ash Shaigh soal Imam Ahmad rahimahullah menceritakan kisahnya, Ahmad bin Hanbal melewati kami sambil memegang kedua sandalnya dengan kedua tangannya, beliau berlari di jalan-jalan Baghdad, berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya. Maka berdirilah bapaknya yang bercerita itu yakni Ismail Ash Shaigh dan memegang baju Ahmad bin Hanbal seraya bertanya, Wahai Abu Abdillah! Sampai kapan kamu terus menuntut ilmu? Beliau Ahmad bin Hanbal menjawab, “sampai mati!” (Syaraf Ashhab Al Hadits hal 68). Atau dalam sesi lain saat Abdullah bin Muhammad Al Baghawi mendengarkan perkataan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal soal janjinya, “Aku akan terus mencari ilmu hingga dimasukkan kedalam kubur” (Manaqib lil Imam Ahmad hal 31).

 

 

Kelak, Jangan Salahkan Kami

Sebegitu semangat yang membara, penuh arti tersendiri dalam lubuk relung hati jiwa. Semangat yang penuh menghasilkan manfaat dari anak-anak muda generasi sholeh sesuai dengan do’a orang tuanya dahulu agar menjadi anak yang beriman dan bertakwa. Anak-anak muda ini berinisiatif dengan daya karsa dan karya yang mereka miliki. Bukan untuk menguasai satu masjid ke masjid lainnya, tapi bermisi dan bervisi agar sunnah Nabi shalallahu ‘alayhi salam tegak di bumi pertiwi ini. Bukan layaknya pendemo sebagaimana barisan sakit hati dan frustasi terkena sindrom depresi sampai ujung kaki.

Tapi, acapkali usaha tak sejalan dengan hasil yang diharapkan. Para tetua tak rela merasa masjid yang dahulu telah lama dijejakkan kakinya oleh mereka terusik dengan kehadiran pemuda-pemuda yang berbahagia dan berilmu penuh kaya. Satu hal, karena bisa jadi anggapan tetua bahwasanya para pemuda ini telah salah jalan. Dan para tetua merasa pendaringan terganggu karena proposal perhelatan upacara perayaan hari besar islam terhambat laju karena pemuda baru kemarin sore ini.

Mereka terkadang mengusir secara halus akan adanya sebuah kajian ilmiah yang dilaksanakan dan diadakan di masjid-masjidnya. Kadang pula secara kasar dengan terang-terangan tentunya dengan berbagai alasan. Namun di sisi lainnya, tenaga para tetua sudah payah, anak muda yang menjadi penerus mereka telah berubah orientasi ke arah dunia, pengajian yang mereka adakan sudah jauh dari nilai agama. Ketika kyainya mengajarkan cium tangan bolak-balik secara berlebihan, disaat air malam nifsyu sya’ban punya nilai sama dengan air zam-zam dan bertuah, ketika perayaan haul dan ziarah menjadi aktivitas rutin penguras biaya, disaat anak muda di mobilisasi untuk memperbaiki speaker yang kelak digunakan untuk berteriak qasidah dan shalawat yang tak jelas asal muasal, tak tahu artinya, dan jauh dari sunnah nabawiyyah sesungguhnya. Anak-anak muda dambaan tetua yang semakin banyak bagaikan buih. Penuh sesak tapi jauh dari ilmu.

Kelak jangan salahkan kami jika saat shalat jamaah generasi muda penuh ilmu syar’i yang benar banyak mengisi shaf-shaf terdepan dan datang lebih dahulu sebelum adzan dikumandangkan. Jangan salahkan kami generasi muda yang antusias terhadap sunnah yang lekas pergi kala sang imam memimpin yasin dan tahlil setelah shalat maghrib tiba. Kelak jangan salahkan kami, bila dakwah yang kami bawa lebih membawa perubahan dalam kehidupan dan punya arti dibanding bernyanyi di subuh hari dengan tanpa fasih mengucap asma yang tak dikenal jaman Nabi serta para sahabatnya. Kelak jangan salahkan kami yang banyak mengisi masjid dengan aktivitas ilmu serta kajian dibandingkan anak-anak para tetua yang ramai memuja dunia atau membawa bendera di malam hari dengan knalpot motor meraung-raung disertai pelanggaran tata tertib dan berlalu lintas. Kelak jangan salahkan kami, tapi salahkanlah diri dan introspeksilah mengapa selama ini mengaji justru malah membuat hampa hati dan jauh dari ilmu syar’i. Bukan karena bapak tetua salah sebab beribadah karena beranggapan baiknya, tapi bapak tetua salah sebab telah menyalahi sunnah.

Sebuah renungan indah yang dipaparkan oleh Said bin Musayyib rahimahullah, ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua rakaat, lelaki tersebut memanjangkan ruku dan sujudnya, akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: Wahai Abu Muhammad (kuniyah Sa’id) apakah Allah Ta’ala akan menyiksaku dengan sebab shalat?” Beliau (Sa’id bin Musayyib) menjawab: “Tidak, tetapi Allah Ta’ala akan menyiksamu karena menyelisihi sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam” (Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 2/466). Pemaparan Sa’id ini menyiratkan pelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani, “Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan shalat, kemudian membantai Ahlusunnah dengan pernyataan bahwasanya para Ahlusunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal sebenarnya yang mereka (Ahlusunnah) ingkari adalah penyelewengan ahlul bid’ah dari tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam dzikir, shalat, dan lain-lain.” (Irwa’ul Gholil 2/236).

Kelak, jangan salahkan kami bila masjid tetua yang selama ini tiba-tiba hidup kembali dengan tegaknya sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

wallahu ‘alam bii shawwab