Sahabat…

Keberserah-dirian adalah suatu prinsip yang paling mudah disebut, tetapi paling sulit disampaikan. Ia bukanlah sebuah pengertian yang dapat kita ambil dari orang lain, melainkan sesuatu yang harus kita cari sendiri oleh masing-masing kita.

Al-Quran memandu kita dengan membentangkan contoh-contoh keberserah-dirian dari mereka yang dididik Allah. Para nabi dan orang-orang suci yang merupakan teladan bagi manusia itu-tanpa kecuali-semuanya berserah-diri.

Marilah kita merenunginya…


“Dan siapakah yang lebih baik diin-nya daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan ia seorang muhsinun dan mengikuti milah Ibrahim yang hanif, dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai khalil-Nya.”
(TQS.4:125).


“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia bersabda kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kalian dengan suka-hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘kami datang dengan suka-hati.'” (TQS.41:11)


“Maka apakah mereka mencari selain diin Allah, padahal berserah-diri (aslama) segala sesuatu di lelangit dan bumi dengan suka-hati ataupun terpaksa, dan kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (TQS.3:83).


“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia membuka shudur/dadanya untuk berserah-diri/aslama. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (TQS.6:125)

Tentang ayat 6:125 di atas ada keterangan dari hadits Rasulullah saw. ini:

Tatkala Rasulullah saw. membaca firman Allah Ta’ala:
“Barangsiapa dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya,
niscaya Dia membuka shudur/dadanya untuk berserah diri…”

Lalu orang bertanya kepada Nabi s.a.w., “Apakah pembukaan itu?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Sesungguhnya cahaya (nuur) itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur) menerima nuur tersebut dengan seluas-luasnya.”
Berkata lagi orang itu, “Adakah tanda-tandanya?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Ya, ada! Merenggangkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum datangnya mati.”


“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk berserah-diri/aslama lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (TQS.39:22)


“Katakanlah kami beriman billah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, dan Ya’qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan para nabi dari Tuhan mereka, tidaklah Kami membedak-bedakan seorang pun diantara mereka. Dan kepada-Nya lah kami berserah-diri.”
(TQS.3: 84).

Nah Sahabats, setelah merenungkan ayat-ayat tentang berserah-diri, marilah kita sempurnakan Ad-Din kita dengan berjuang untuk dapat berserah-diri kepada Allah SWT, tentu sambil kita senantiasa mohon pertolongan-Nya.

Wallahu a’lam bi shawwab.

Referensi:

1. Al-Quran

2. Materi Kajian Serambi Suluk Yayasan Islam Paramartha, Tim Mentor YIP, Bandung, 2003.

Sumber Gambar:

1. http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:hbxr6Ti_2tsNMM:http://intsia.files.wordpress.com/2009/03/sujud08.jpg

2. http://gusrachmat.files.wordpress.com/2009/09/sufi-berzikir-mendekati-allah.jpg