Suatu hari ada seorang ustad berjalan dan bertemu dengan seorang musafir, dan sang musafir menghampiri seorang ustad tersebut dan hendak meminta atau menayakan sesuatu.

Musafir: Assalamualaikum ya akhi,

Ustad: wa’ alaikum salam ya musafir Hendak apa engkau menemuiku musafir

Musafir : ya ahlu ilmi ku ingin bertanya dan meminta sesuatu dari engkau

Ustad : apa itu wahai musafir?

Musafir : Hal yang pertama ingin aku tanyakan kepada mu apa itu hakikat iman menurut yang kau ketahui?

Ustad: Iman adalah pekataan terucap dilisan dan diyakinkan dihati dan dikerjakan lewat perbuatan.

Musafir : (tersenyum) aku tidak bertanya definisi tentang iman ya ahlu ilmi, ku bertanya tentang hakikat apa itu iman?

Dengan bingung sang ustad mengerutkan wajahnya seraya berkata, yang bertanya pasti lebih tau dari pada yang ditanya, sang musafir kembali tersenyum seraya berkata wahai alhu ilmi ingatkah kau ketika Rasulullah Mi’raj dan Allah memberikan kewajiban kepada umat untuk sholat 50 waktu? Dan hendak turun dan dalam perjalanan bertemu dengan Nabi Musa dan beliau menyuruh Rasulullah untuk memohon memperingan dikarenakan umat mu sangat lemah dan sholat 50 waktu itu terhitung berat. Sang Ustad teringat akan kisah nyata itu, tapi dia masih bingung akan pertanyaan yang di ajukan sang Musafir hingga dia berkata “lalu apa hubungannya dengan hakikat iman wahai Musafir” Sebelum ku menjawab aku ingin bercerita dahulu tentang diriku, dahulu sebelum ku berkelana mencari jati diriku aku adalah orang yang tergolong malas dalam segi apapun, dan suatu saat aku bertemu seseorang yang pandai dalam hal agama, dan kubertanya kepadanya tentang kemalasanku.

” Wahai tuan guru ketahuilah bahwasanya aku adalah orang yang malas dalam beribadah, dan apakah aku masih seoarng islam yang beriman,

Tuan Guru Berkata: “ketahuilah oleh kamu, kamu masih mempunyai keimanan dengan pengakuanmu, dan jika rasa malasmu datang hendaklah kau ingatlah 4 hal untuk menambah keimananmu, jika kamu merasakan ketidak butuhan untuk menjaga nya kamu boleh selalu malas dalam beribadah, dengan melakukan 4 hal yang akan aku beritau.

    Musafir:” Apa itu wahai tuan Guru?

  • Hal pertama yang kau lakukan janganlah kau makan makanan hasil dari kenikmatan Allah
  • Hal kedua janganlah kau meminum minuman hasil dari kenikmatan Allah
  • Hal yang ketiga janganlah kau mengambil tanah sedikitpun karena itu kepunyaan Allah
  • Hal keempat janganlah kau menghirup udara sedikitpun karena itupun kepunyaan Allah.

 Mendengar hal demikian aku pun berpikir tak akan mungkin aku bisa melakukannya. Wahai tuan guru mana mungkin aku bisa, sehari tak makan aku merasa lapar, apalagi tak minum aku merasa kehausan, dan jika ku tak mengambil tanah aku harus pergi kemana tuan guru, dan ku pun tak mungkin aku tak menghirup udara.

Tuan Guru tersenyum dan berkata apa kamu tidak mempunyai rasa malu, setiap saat kau telah meikmati kenikmatan yang Allah berikan kepadamu, mulai dari makanan, minuman, tanah bahkan udara yang kau hisap setiap saat.

Jika kamu menguasai ke 4 hal tadi silahkan kamu tak usah shalat tak usah kau mengimani Allah serta Rasulnya, terserah apa yang ka lakukan kau telah berhak.

 Tersentak hatiku mendengarkan perkataannya, aku tersadar selama ini aku mengaku islam dan beriman tapi aku tidak mempunyai rasa Malu kepada Allah dan Rasulnya. Sedangkan Rasulullah ketika nabi Musa menyuruh untuk kembali kepada Allah agar meminta keringanan tentang kewajiban (Shalat) yang sebenarnya Allah telah memberikan keringanan 5 waktu Nabi SAW berkata ketauhilah wahai kamu Nabiullah Musa AS, jika aku kembali kepada Allah, kemungkinan Allah tidak akan memberikan kewajiban kewajiban kepada Ku dan umatku, demi Dzat yang Maha agung aku merasa malu, telah banyak kenikmatan yang Allah  berikan kepadaku tapi aku masih meminta keringanan atas kewajiban yang telah Allah berikan kapada ku dan umatku, 5 waktu kurasa ringan bagi umatku yang benar benar beriman kepada Allah. Entah berapa lama kuterdiam ku sudah tak melihat tuan guru itu.

Wahai ahlu ilmi begitulah ceritaku apakah kamu telah mengetahui hakikat iman itu? Subhanallah terima kasih wahai tuan kau memberikan ilmu dan renungan kepadaku tentang apa yang dimaksud dengan hakikat keimanan. Sekarang ku lebih tau inti dari keimanan itu adalah Rasa Malu seperti yang diajarkan dan di contohkan Rasulullah SAW.

 Semoga bermamfaat dan mengambil ibroh dari cerita  ini,

Haddannallah Waiyyakum Azmain, Wa’ allahul Muwafiq Illa Aqwamit Thoriq.

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh