Assalamu’alaikum

Penulis akan mencoba menulis Beberapa macam tasawuf yang ada dan berkembang dalam jaman sekarang dan dahulu & Perkembangan kedudukan Tasawuf didalam islam.

Adapun Tasawuf terbagi menjadi 3:

☞. Tasawuf Akhlaqi(sunni)

Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berkonstrasi pada teori-teori perilaku, akhlaq atau budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan, tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmunah dan mewujudkan akhlaq mahmudah. Tasawuf seperi ini dikembangkan oleh ulama’ lama sufi.

Dalam pandangan para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Oleh karena itu pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang diharuskan melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat tujuannya adalah mengusai hawa nafsu, menekan hawa nafsu, sampai ke titik terendah dan -bila mungkin- mematikan hawa nafsu sama sekali oleh karena itu dalam tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:

1. Takhalli

Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi.Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi.

2. Tahalli

Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama baik yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam). Yang disebut aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll. Dan adapun yang bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan dan kecintaan kepada Tuhan.

3. Tajalli

Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka rangkaian pendidikan akhlak selanjutnya adalah fase tajalli. Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh –yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka, maka rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.

☞. Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada gabungan teori-teori tasawuf dan filsafat atau yang bermakana mistik metafisis, karakter umum dari tasawuf ini sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Al-Taftazani bahwa tasawuf seperti ini: tidak dapat dikatagorikan sebagai tasawuf dalam arti sesungguhnya, karena teori-teorinya selalu dikemukakan dalam bahasa filsafat, juga tidak dapat dikatakan sebagai filsafat dalam artian yang sebenarnya karena teori-teorinya juga didasarkan pada rasa. Hamka menegaskan juga bahwa tasawuf jenis tidak sepenuhnya dapat dikatakan tasawuf dan begitu juga sebaliknya. Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ahli-ahli sufi sekaligus filosof. Oleh karena itu, mereka gemar terhadap ide-ide spekulatif. Dari kegemaran berfilsafat itu, mereka mampu menampilkan argumen-argumen yang kaya dan luas tentang ide-ide ketuhanan.

Dan Para ahli ini kebanyakan menukil dari orang-orang india & yunani yang memiliki keyakinan reinkarnasi(hulul) dan menyatunya manusia dengan tuhan(wihdatul al-wujud) yang mengikuti kehendak-kehendak perasaan yang jauh dari petunjuk-petunjuk Islam serta tak dibenarkan oleh Al-Qur’ an.

☞. Tasawuf Syi’i

Paham tasawuf syi’i beranggapan, bahwa manusia dapat meninggal dengan tuhannya karena kesamaan esensi dengan Tuhannya karena ada kesamaan esensi antara keduanya. Menurut ibnu Khaldun yang dikutip oleh Taftazani melihat kedekatan antara tasawuf falsafi dan tasawuf syi’i. Syi’i memilki pandangan hulul atau ketuhanan iman-iman mereka. Menurutnya dua kelompok itu mempunyai dua kesamaan.

Dari ketiga pembagian Tasawuf itu dua diantara Tasawuf(Falsafi & Syi’I) Islam tidak membenarkan dan malah mengingkarinya. Dan dengan kefakiran penulis, Yakin aliran itu tidak sejalan dengan fitrah islam. Akan tetapi diluar Tasawuf(Falsafi & Syi’I)tadi, ada salah satunya yang Tumbuh dari asuhan Iman, Islam,dan Ihsan(Tasawuf Akhlaqi).
Tasawuf ini cendrung berjalan berdasarkan ilmu dan amal yang benar sehingga dapat memperkaya perasaan manusia dengan pengabdian seikhlas-ikhlasnya kepada Allah Subhana Wa Ta- ala, mendorong manusia untuk rela mengorbankan hidup matinya demi mendapatkan keridhoan Allah Subhana Wa Ta- ala, mempertajam jangkauan kemampuan bathiniyah hingga sanggup nengenak dan menyaksikan hakikat ektsistensi-Nya. Tasawuf seperti inilah yang membuat para penganutnya merasakan kebahagian bathin, sekalipun pandangan orang lain mereka hidup sengsara. Penulis pernah membaca ada kaum Sufi penganutnya mengatakan: “Penjara bagiku adalah khalwah(mengurung diri), pembuangan bagiku adalah tamsya dan matu dibunuh bagiku adalah mati syahid”.

Tasawuf inilah yang penulis rasa yang bisa mengubah makrifat(mengenal) yang semata-mata hanya bersifat teori menjadi kesegaran perasaan didalam hati. Semua kewajibannya dilaksanakan dengan perasaan Ridho dan ikhlas, tidak merasakan apa itu kesulitan-kesulitan yang ditemuinya, dan maksiat ditinggalkan dan dihindari dengan perasaan tidak butuh.

Penulis teringat ketika itu nabi Yusuf Alaihi Salam menghadap Allah Subhana Wa Ta- ala dan berdoa:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” [Yusuf:33].

Perubahan ilmu dan makrifaf dari gambaran pikiran yang kering menjadi perasaan batin yang lembut adalah karunia Allah Subhana Wa Ta- ala. Mengenai hal ini Allah Subhana Wa Ta- ala berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ⑦.فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ⑧

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,(⑦). sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(⑧) “[Al-Hujarat:7-8]

Dari firman Allah tersebut Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang Ridha bertuhan kepada Allah, beragama Islam dan Ridha untuk mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul; iatelah merasakan manisnya iman”.(HR.Muslim)

Para ahli ilmu jiwa mengatakan : ” perasaan mempunyai 3 macam penampilan, yaitu:

»Pengertian(idrak)

»Intuisi(wijdan)

»Kecendrungan(nuzu)

Kita mengatakan: ” Orang yang dikehendaki Allah menjadi lebih baik, Allah akan membuat pengertian yang bertumpu pada kebenaran, membuat intuisinya bertumpu pada kerinduan terhadap-Nya.

Penulis mengajak untuk merenungkan firman Allah Subhana Wa Ta- ala. Kepada nabi Musa Alaihi Salam:

وَمَا أَعْجَلَكَ عَن قَوْمِكَ يَا مُوسَى83. قَالَ هُمْ أُولَاء عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى84

“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?(83)Berkata, Musa: “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”.(84)[Thaha:83-84]

Selain itu kita bisa lihat betapa hangat dan kerinduan Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam kepada Allah Subhana Wa Ta- ala saat dia menadahi hujan yang turun dengan bajunya seraya berucap:“Inilah hujan, baru saja diturunkan oleh Allah Subhana Wa Ta- ala “

Dari firman Allah Subhana Wa Ta- ala dan ungkapan dari Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam apakah banyak orang beragama mempunyai sifat seperti itu? Penulis rasa belumlah banyak orang yang telah mencapai tingkatan itu. Dari beberapa buku dan pengalaman saya pribadi, saya melihat banyak orang beragama yang bernasib baik dapat menguasai berbagai ilmu syariat dan hukum fiqh. Namun hatinya masih kosong dari perasaan kelembutan, dan dari hasrat merindukan martabat tinggi disisi Allah Subhana Wa Ta- ala, dan rasa cinta kasih terhadap orang lain. Dan sebaliknya, saya juga melihat banyak orang yang yang mempunyai perasaan lembut dan jalan hidup yang terpuji, tetapi sayangnya mereka tidak berilmu(hanya sedikit memahami syariat islam)

Dari dua golongan tersebut jelas mempunyai kekurangan dan keburukan. Sebab, seorang ahli ilmu tidak berhati sama dengan seorang penyair yang tidak mempunyai perasaan. Dan kedua-duanya akan merugikan dirinya dan juga agama Islam dan bisa menghambat kemamafaatannya. Agama adalah akal perasaan, pengetahuan ahlak, pandangan yang tepat dan mata hatinya yang terang benderang.

Sedangkan orang-orang yang mengusai ilmu agama secara mendalam terhindar dari kekurangan-kekurangan diatas, dalam kitab yang ditulis oleh: Ibn Taimiyyah, Ibn Al-Qayyim, Al-Ghazali,dll. Tentu akan mengetahui bahwa mereka itu adalah para ulama yang telah mencapai tinggkat tinggi dalam memahami perasaan manusia dan dalam menjajaki akal pikirannya.

Saya pernah membaca dalam kitabnya, Imam Ibn Al-Qayyim mengimbau manusia supaya merindukan negeri Akhirat. Ia berkata kepada setiap orang:” hidup didalam surga ‘adn adalah lebih baik, karena surga itu tempat kediamanmu yang utama, dan disanalah orang berteduh”

Menurut saya yang masih fakir akan ilmu, pebedaan pendapat diantara para ulama puncak itu semata-mata hanya disebabkan oleh perbedaan masalah yang ditanggulangi masing-masing, dan karena perbedaan cara dalam menentukan sebab-musabab yang menimbulkan masalah, di samping adanya perbedaan rasa dan pandangan yang sudah ladzim ada pada tabiat manusia. Dan menurut penulis ukurannya sebagai berikut:

•»Dalam mempelajari gejolak nafsu dan melakukan pengawasan ketat terhadap hal-hal yang mendorong suatu perbuatan, niat harus tetap jernih dan ikhlas semata-mata demi Ridho Allah Subhana Wa Ta- ala.

•»selalu membiasakan diri untuk menghayati perbuatan dan senantiasa mengindahkan petunjuk Nabi: ” beribadahlah kau seolah-olah engkau melihat Allah. Jika kau tak melihat-Nya, Ketahuilah Allah senantiasa melihatmu” Namun, hal itu tidak akan sempurna dengan menjernihkan pikiran didalam khalwah saja, tetapi harus dikongkretkan dalam praktek kehidupan, baik dalam menghadapi kemudahan ataupun kesulitan, di waktu sehat ataupun sakit dsb.

•» Memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhana Wa Ta- ala yang ada pada diri manusia ataupun semesta, dan belajar dari pengalaman masa lalu dan yang sekarang, serta lebih mendalami apa yang telah terkandung dalam Kitabullah Al-Qur’ an dan Sunnah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam (Hadits) serta mengamalkannya.

Hanya ini yang bisa saya tulis dengan kefakiran ilmu yang saya dapat dari guru dan membaca buku, jika adanya kesalahan-kesalahan dalam penulisan harap mohon dimaklumi. Mudah-mudahan bermamfaat, dan hendaklah kita seraya mau menelaah apa yang pernah disaksikan ataupun didengar oleh orang-orang yang memperoleh kemuliaan disisi Allah, dan tidak terkecoh oleh bujuk rayu keduniaan dan merasa tentram menuju kealam keabadian.

Hadanallah wa’ iyyakum azmain, Wa’allahul muwafiq ila aqwamit thoriq

Assalamualaikum, Wr. Wb