Secara normatif, syariah Islam adalah rahmat bagi seluruh umat manusia; Dari Umat Muslim sendiri maupun dari Umat non-Muslim seperti dalam (QS al-Anbiya. [21:107]).

“Wa maa arsalnaaha illaa rahmatan lil’alamiin”
(“Dan tidaklah kami mengutusmu untuk melainkan untuk [menjadi] rahmat alam semesta“).

Lalu terkait dgn non-Muslim Islam telah melarang siapapun untuk memaksa non-Muslim masuk dalam agama islam, seperti dalam (QS al-Baqarah [2]:256)

” Laa ikraaha fiiddiin”
“Tak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”

Dalam sistem pemerintahan islam (khilafah) warga negara non-Muslim disebut dgn “kafir dzimmi”. Dan mereka pun diperlakukan sama dgn warga negara Muslim. Dan kedudukan Ahludz dzimmah sendiri diterangkan oleh Baginda Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam. Dalam sabdanya beliau mengatakan,

“barang siapa saja yg membunuh mu’ahid (org kafir yg mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yg haq tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak 40thn perjalanan sekali pun” (HQ. Ahmad).

Dalam hal ini menurut Imam Qarafi mengatakan, “kaum muslim memiliki tanggung jawab terhadap para ahludz-dzimmah untuk menyantuni, memenuhi kebutuhan kaum miskin mereka, memberi makan mereka yg kelaparan, menyediakan pakaian dan memperlakukan mereka dgn baik bahkan memaafkan kesalahan mereka dalam kehidupan bertetangga”
Adapun secara historis, penghargaan dan perlindungan Islam terhadap non-Muslim diakui oleh. T.W.Arnold dalam bukunya, The preaching of Islam, saat menuliskan bagaimana perlakuan yg baik yg diterima non-Muslim yg hidup dibawah pemerintahan Khilafah Usmaniayah,

“perlakuan terhadap warga kristen oleh pemerintah Ottoman, selama kurang lebih 2 abad setelah penaklukan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yg sebelumnya tdk dikenal di daratan Eropa.
Kaum Protestan Silesia pun sangat menghormati Pemerintahan Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dgn tunduk pada hukum Islam.
Kaum Cossack, yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan slalu ditindas oleh para jamaah gereja Rusia, bisa menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen dibawah kepemimpinan Sultan”

lalu T.W.Arnold menuliskan jg
“Saat kostantinopel dibuka oleh keadilan Islam pd thn 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya sebagai pelindung Gereja Yunani. Penindasan atas kaum Kristen dilarang keras dan dekrit yg memerintahkan penjagaan keamanan untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yg memerintahkan keamanan untuk Uskup Agung yang baru terpilih , Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya, hal yg tak pernah didapatkan dari penguasa sebelumnya. Gennadios bahkan diberi staf keuskupan oleh Sultan sendiri.”

Demikianlah, dalam sistem Khilafah selama berabad abad tentu dengan penerapan syariah orang-orang non-Muslim diperlakukan dengan sangat baik, tak hanya menyangkut kebebasan atas keyakinan mereka, tetapi jg keamanan harta dan jiwa mereka serta kesejahteraan mereka.
Dari itu semua penulis mengajak untuk menegakkan Syariah dan Khilafah, serta buang Pluralisme.!!

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Assalamu’ alaikum wr wb

Dikutip dari: majelistalimalhidayah.blogspot.com