Hukum menyentuh, membawa dan membaca Al-Qur’an bagi wanita Haidh dan nifas

 Bismillahi rohmanirrohim.. 

Hukum menyentuh, membawa dan membaca Al-Qur’an bagi wanita Haidh dan nifas

Wanita haidh/nifas diharamkan untuk menyentuh mushaf dan membawanya. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Artinya: “Tidak menyentuhnya (mushaf) kecuali orang-orang yang mensucikan dirinya.”
Dan Hadits Rasulullah ﷺ :
لا يمس القرآن إلا طاهر
Artinya: “Tidak menyentuh Alqur’an kecuali orang yang suci.”
Maksud mushaf adalah: Bagian ayat Al-qur’an yang tertulis walaupun hanya beberapa ayat yang dapat dipahami. Diharamkan menyentuh mushaf walaupun dengan kain.
Namun diperbolehkan membawa mushaf bersama benda lain jika berniat membawa benda tersebut saja. Jika berniat membawa mushaf saja maka hukumnya haram. Sedangkan jika berniat membawa keduanya atau tidak berniat sama sekali maka boleh menurut Imam Romli, dan sebaliknya menurut Ibnu Hajar.

Hukum membawa Mushaf bagi wanita Haidh/Nifas


Jika berniat membawa :

1. Benda saja : Boleh

2. Al-Qur’an saja : Haram

3. Benda dan Al-Qur’an : Boleh (menurut Imam Romli)

4. Tidak niat apapun : Boleh (menurut Imam Romli)
Membaca Al-Qur’an dengan niat mengaji



Wanita haidh/nifas diharamkan untuk membaca Al-Qur’an berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ :
لا يقرأ الجنب ولا الحائض شيئا من القرآن
Artinya: “Tidaklah seorang yang junub dan haid membaca sesuatu dari Al-Qur’an”
Berikut ini syarat seorang wanita diharamkan untuk membaca Al-Qur’an ketika Haidh/Nifas :
a. Membaca Al-Qur’an dengan niat mengaji saja atau dibarengi niat lainnya.

Jika niat untuk berdzikir, memberi nasihat atau kisah, menjaga hafalan, atau menjaga diri tanpa dibarengi niat mengaji, maka tak diharamkan. Tak diharamkan pula jika ia membaca Al-Qur’an tanpa dibarengi niat apapun.
b. Membaca Al-Qur’an dengan lafadz yang dapat didengarnya.

Oleh karena itu tak diharamkan jika ia membaca dalam hati atau memandang mushaf tanpa menggerakkan lidah.
Hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita Haidh/Nifas
Niat membaca Al-Qur’an:

1. Niat mengaji saja : Haram

2. Niat mengaji dan lainnya : Haram

3. Niat lainnya saja (dzikir dll) : Boleh

4. Tak berniat apapun : Boleh
Para ulama fiqih bersepakat bahwa wanita haidh/nifas diperbolehkan untuk bertasbih, bertahlil, dan berdzikir selain Al-Qur’an.
Kitab :

الإبانة والإفاضة

في احكام الحيض و النفاس والإستحاضة

على مذهب الإمام الشافعي
Kutipan tausyiaah : Sayyid Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Qodir Assegaf

Semoga Bermanfaat 

Iklan

“STATUS DISAHIHKAN OLEH ” ALBANI “

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

بسم الله الرحمن الرحيم 

Oleh : Syaikh Dr. Yusuf Khottoor Muhammad 

( Ulama Syiria )
Wahai saudaraku fillah….bukan merupakan kebiasaanku untuk menyerang seseorang, akan tetapi saya selalu menghormati setiap pendapat meskipun saya tidak setuju dengan orang mereka.
Akan tetapi setelah saya mengikuti lama akan permasalahan ini yang semakin viral dengan cepat, saya yakini bahwa termasuk amanah adalah saya menyampaikan tentang hal ini karena sesungguhnya hal ini sudah sampai kepada level yang sangat berbahaya…yaitu tentang  pernyataan *(telah dishahihkan atau didhaifkan oleh Albani).*
sehingga sebagian orang bahkan berkeyakinan bahwa Syekh Albani adalah termasuk salah satu dari imam yang sembilan !!!! padahal dirinya meninggal pada tahun 1999 M.
Kita kembali ke pokok masalah yang viral..sering kali kita mendengar di internet tentang pernyataan (telah di shahihkan oleh Albani). Yang perlu diketahui bahwa *Albani bukanlah seorang muhaddits* bahkan tidaklah hafal satupun riwayat dengan sanadnya kepada BAGINDA  Rasulullah 
صلي الله عليه وسلم 
Bahkan meskipun dirinya adalah seorang muhaddits maka tidak berhak baginya untuk mentashihkan ataupun mendhaifkan hadits, *karena hal ini adalah tugas seorang Hafidz…karena hafidz itu lebih tinggi derajat keilmuannya dari pada muhaddits.*
muhaddits hafal riwayat dengan sanadnya, dan hafidz memiliki kelebihan dengan mengetahui ahwal para perawi setiap tingkatan riwayatnya.
Albani telah melakukan pentashihan dan pendhaifan , oleh karena albani bukan ahlinya, sehingga kerap kali mentashihkan yang dhaif dan mendhaifkan yang shahih, sering dan sering kali. Maka setiap kali saya membaca (telah di shahihkan oleh Albani) maka saya selalu berhenti sejenak dan bertanya “bagaimana dia mentashih sebuah hadits” terhadap hadits yg sudah dikomentari oleh para hafidz sekelas Imam Turmudzi dan yg lainnya??!!…
saya akan memberikan contoh dengan pendekatan masakini untuk mempermudahkn ;

” Kalau seandainya ada seorang profesor pada bidang kedokteran memeriksa seorang pesakit kemudian dia memvonisnya bahwa dirinya mengidap penyakit “berbahaya” sehingga harus cepat-cepat untuk melakukan pmbedahan untuknya…kemudian tiba tiba dtg seorang murid yang sedang belajar ilmu kedokteran datang dan menentang serta mengkritik kepada sang professor seraya berkata ” dokter ini salah”. Apakah bisa kita katakan bahwa yang benar dan lebih kita percayai adalah perkataan si murid dari pada sang professor???!!!! jelas “tidak”.
Nah inilah yang terjadi sekarang terhadap ilmu hadits syarif bahkan lebih dari itu semua..dimana hal ini sudah sangat parah, dimana kitab *durar assaniyyah* dibuang nama mukhrijnya dari para ulama hafidz besar, kemudian *diletakkan nama Albani disitu !!!!!!*
Kalau seandainya saja ada yang bertanya “bagaimana pendapat anda tentang masalah (telah ditashihkan Albani) ???? maka jawabnya adalah ;

” tidak boleh kita menjawab dengan pernyataan ini kecuali hanya  pada satu keadaan, yaitu;

ketika Albani mengarang sebuah kitab yang mengumpulkan hadits hadits kemudian menyambungkanya dengan sanadnya kepada baginda Rasulullah 
صلي الله عليه وسلم 
 dengan selain sanad dari para imam pengarang kitab shahih dan sunan, kemudian barulah dirinya mentashih dan mendaifkan hadits hadits yg ada pada kitabnya.
Adapun kalau dirinya mengkoreksi kepada para imam tashih dan tadh’if kemudian mengacaukan terhadap penghukuman para imam-imam tersebut, dan ini namanya bermain main di dalam ilmu periwayatan dan sanad.
Bukan tujuannya utk mencela terhadap peribadi Albani, akan tetapi demi mengungkapkan kebenaran….perkara ini adalah merupakan bhgian dari agama..maka lihatlah dari siapa kalian mengambilnya.

………..

maka sadarlah wahai para saudaraku fillah…ketika kalian menemukan posting² penting dan shahih, *maka edit dan buanglah nama Albani, lalu letakkan nama hafidz dan muhaddits asli yg telah mentakhrij haditsnya…karena jikalau  kita tidak melakukannya, maka nama nama para ulama besar hadits ini akan sirna dan tidak dikenal seperti Imam Bukhari , Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan Nasai juga yang lainnya*….yang mana para ulama senantiasa telah menyebut nama nama mereka sejak kurun waktu yang telah lalu…
Sumber fanpage :
 الشيخ يوسف خطار محمد

CINTA NABI KEPADA UMMATNYA

Suatu ketika Sayyidatuna Aisyah ra melihat Rasulullah saw berdoa dalam keadaan menangis, kemudian Sayyidatuna Aisyah bertanya: 

“Mengapa engkau menangis wahai Rasulullah..?”
Kemudian Rasulullah saw menyuruh Sayyidatuna Aisyah ra mendekat dan mendoakannya.
Di dalam doanya, Rasulullah saw  berkata:, “Ya Allah ampuni Aisyah, segala dosa-dosanya yang terdahulu, yang akan datang, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan”
Mendengar doa tersebut, Sayyidatuna Aisyah tersenyum bahagia..
Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Sayyidatuna Aisyah: 
“Ya Aisyah,apakah engkau bahagia dengan doaku?”
“Ya Rasulullah, bagaimana aku tidak bahagia. Engkau mendoakan aku dengan doa yang demikian agung?” ujarnya..
Rasulullah saw berkata: “Demi Allah, wahai Aisyah, itu adalah doaku untuk semua ummatku setiap saatnya.”
Subhanallah..

Begitulah, wujud kecintaan Nabi kepada ummatnya. Setiap saat selalu mendoakan yang terbaik untuk umatnya.

Lalu bagaimana dengan kita? 

Semoga kita semua termasuk umat yang benar benar bisa mencintainya dan kelak Menjadi Umat yg Rasulullah kenali, hingga kita mendapatkan syafaatul ujma di yaumil Hisab hingga Allah mengamlmpuni dosa dosa kita semua..

Aamiin Ya Rabbal Alamin..

RISALAH WANITA  SHOLIHA

Mau Tau

ﻟﻤﺎﺫﺍ ﻻ ﺗَﺠﺪُ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀﺣﻼﻭﺓ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﻟﺬَّﺓ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺃﺛﺮ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ؟
 

Ada seorang wanita bertanya kepada seorang Syaikh,
“Wahai Syaikh, dulu sebelum menikah, saya adalah seorang wanita yang banyak berpuasa, shalat malam, saya dapat merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika membaca Al Qur’an. Tapi sekarang setelah  menikah, saya tidak lagi merasakan nikmatnya ketaatan.”
 Syaikh tersebut lalu bertanya :
“Baiklah..bagaimana perhatianmu kepada suamimu?!”Dengan heran, wanita itupun berkata, 
“Wahai Syaikh, aku bertanya kepadamu tentang Al Qur’an, puasa, shalat, dan manisnya ketaatan, tapi mengapa anda bertanya tentang suamiku?”
 Syaikh menjawab :
“Betul wahai saudariku, mengapa sebagian istri tidak dapat merasakan manisnya iman, ketaatan, dan tidak dapat merasakan pengaruh dari ibadahnya?”
 Dan inilah jawabannya, Rosulullah ﷺ bersabda, 
ﻭﻻﺗَﺠِﺪُ ﺍﻣﺮﺃﺓٌ ﺣَﻼﻭَﺓَ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥِ ؛ ﺣﺘﻰﺗُﺆَﺩِّﻱَ حق َّﺰَﻭْﺟِﻬﺎ 
“Seorang istri tidak akan dapat merasakan manisnya iman sampai ia menunaikan kewajibannya terhadap suaminya.”

(Shahih At Targhib 1939).
Apa kewajiban seorang istri ?
 

Istri Sa’id bin Al Musayyib – mengatakan :
ﻣﺎ ﻛﻨَّﺎ ﻧُﻜﻠِّﻢ ﺃﺯﻭﺍﺟَﻨَﺎ ﺇﻟَّﺎ ﻛﻤﺎ ﺗُﻜﻠِّﻤﻮﻥ ﺃﻣﺮﺍﺀَﻛﻢ ‏) .
“Kami berbicara dengan suami kami sama seperti kalian berbicara dengan raja kalian.” (Hilyatul Auliya’ 5/168).
 Mengapa seperti itu?

Karena di dalam hati mereka, suami punya kedudukan dan wibawa yang tinggi.
 Rasulullah  ﷺ bertanya kepada seorang wanita, 
ﻗﺎﻝﷺ : ﻟﺼﺤﺎﺑﻴﺔ : ﺃَﺫﺍﺕُ ﺯﻭﺝٍ ‏[ ﺃﻧﺖِ ‏] ؟

ﻗﺎﻟﺖ : ﻧﻌﻢ ﻗﺎﻝ : ﻛﻴﻒ ﺃﻧﺖِ ﻟﻪ ؟ ﻗﺎﻟﺖ : ﻣﺎ ﺁﻟﻮﻩ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻋَﺠﺰﺕُ ﻋﻨﻪ .ﻗﺎﻝ : ﻓﺎﻧﻈُﺮﻱ ﺃﻳﻦ ﺃﻧﺖِ ﻣﻨﻪ ؛ ﻓﺈﻧﻪ ﺟﻨَّﺘُﻚِ ﻭﻧﺎﺭُﻙِ. 

(ﺍﻟﺮﺍﻭﻱ : ﺣﺼﻴﻦ ﺑﻦ ﻣﺤﺼﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ‏: 1.933 ‏)

“Apakah kamu sudah menikah?”

Wanita itu menjawab, “iya.” Lalu Nabi – bertanya kepadanya, ” bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Wanita itu menjawab, “saya tidak pernah lalai untuk mentaatinya.” 

Lalu Nabi  ﷺ bersabda, 
“Lihatlah bagaimana sikapmu kepadanya, sejatinya suamimu itu adalah (sebab) bagi surga atau neraka untukmu.” (Shahih At Targhib 1933).
Allah Ta’ala berfirman, 
ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ 

“Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (Surat An-Nisa’ : 34).
 Abdullah bin Abbas berkata bahwa :
“Makna Qanitaat yaitu para istri yang taat kepada suami mereka.”
 Dan Allah Ta’ala tidak mengatakan, “Thai’aat” (istri yang taat)!! (Tapi Allah gunakan kata Qaanitaat) yang berarti sangat patuh dengan kepatuhan yang sempurna.
 

Kemudian, bagaimana seorang istri tahu bahwa ia adalah istri yang shalehah dan taat?


CIRI-CIRI WANITA SHOLIHAH :* 

Inilah di antara sifat seorang isteri yang shalihah dan sangat kuat kepatuhannya kepada suaminya 
إن نظر إليها سرَّتْه ..

Jika ia dipandang, maka menyenangkan suaminya
وإنْ أمرها أطاعتْه ..
 

Jika ia diperintah, maka mematuhi suaminya
وَإِنْ غابَ عنها حفظتْه في نفسها وماله .
 

Jika suaminya tidak ada di sisinya, maka ia menjaga kehormatannya dan harta suaminya…
• إِنْ غابَ عن عينها علمت ما يغضبه؛ فانتهت عنه 
 

Jika suaminya berpaling muka dari dirinya, maka ia tahu apa yang menyebabkan suaminya tersebut marah, lalu ia berhenti darinya (membuat suaminya marah)…
– ولا تصرفات لا يرضاها . 
 Tidak ada tindakan-tindakan yang tidak diridhainya
– ولا أقلَّ ولا أكْثرَ ممِّا لا يريده .
 

Tidak pula sedikit atau banyak yang tidak dikehendakinya..

 Ia tidak berani melakukan hal-hal yang tidak disukai suamiya,

Tidak pula mengurangi atau menambah apa yang diinginkan suaminya.
Tidak mengangkat suara keras melebihi daripada suami. 
 tidak membantah perintahnya dal hal yang ma’ruf.
Berusaha membuat hati suami ridho
 Rasulullah ﷺ bersabda, 
ﺃﻟَﺎﺃﺧﺒﺮُﻛﻢ ﺑﻨﺴﺎﺋِﻜُﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨَّﺔِ ؟ ﻗُﻠﻨَﺎ : ﺑﻠَﻰ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ !ﻗﺎﻝَ : ﻛُﻞُّ ﻭﺩﻭﺩٍ ﻭَﻟﻮﺩٍ ، ﺇﺫﺍ ﻏَﻀِﺒﺖْ ، ﺃﻭ ﺃُﺳﻲَﺀَ ﺇﻟﻴﻬَﺎ ، ﺃﻭ ﻏﻀِﺐَ ﺯﻭﺟُﻬﺎ ، ﻗﺎﻟﺖْ : ﻫﺬﻩِ ﻳﺪِﻱ ﻓﻲ ﻳﺪِﻙَ ، ﻻ ﺃﻛﺘﺤِﻞُ ﺑﻐَﻤﺾٍ ﺣﺘَّﻰ ﺗَﺮﺿَﻰ. (ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ‏:1941)

“Maukah kamu aku beritahu (ciri-ciri) istri-istri kalian di surga nanti? (Mereka adalah) para istri yang penyayang kepada suaminya lagi subur (akan keturunan), jika suaminya marah atau ia berbuat salah kepada suaminya, ia  pun mendatanginya dan berkata,
 “wahai suamiku, aku tidak bisa tidur nyenyak sampai engkau memaafkanku.” (Shahih At Targhib 1941).
 Istri yang shalihah akan selalu ingat sabda nabinya ﷺ ;
ﻻ ﻳﻨﻈﺮُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻣﺮﺃﺓٍ ﻻﺗﺸﻜُﺮُ ﻟﺰﻭﺟِﻬﺎ ؛ ﻭﻫﻲَ ﻻ ﺗَﺴﺘَﻐﻨﻲ ﻋَﻨْﻪُ

(ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ : 1944)

“Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak pandai berterima kasih kepada kebaikan suaminya.”
 Seorang istri yang shalihah tiada pernah lenyap dari benaknya sabda nabi :
ﻟَﻮْ ﺃَﻣَﺮْﺕُ ﺃﺣﺪًﺍ ﺃﻥْ ﻳَﺴْﺠُﺪَ ﻷَﺣَﺪٍ ؛ ﻷَﻣَﺮْﺕُ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓَﺃﻥْ ﺗَﺴْﺠُﺪَ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬﺎ ؛ ﻣﻦ ﻋِﻈَﻢِ ﺣَﻘِّﻪِ ﻋﻠﻴْﻬﺎ.  (ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ‏: 1939)

“Kalau seandainya dibolehkan untuk memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, maka akan aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” 
 Karena syarat diterimanya amalan seorang istri adalah bila suaminya ridha kepadanya.
 Rasulullah ﷺ bersabda :
” ﺣَﻖُّ ﺍﻟﺰَّﻭْﺝِ ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻪِ ﺃَﻥْ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻪِ ﻗُﺮْﺣَﺔٌ ﻓَﻠَﺤَﺴَﺘْﻬَﺎ ﺃَﻭِ ﺍﺑْﺘَﺪَﺭَ ﻣَﻨْﺨِﺮَﺍﻩُ ﺻَﺪِﻳﺪًﺍ ﺃَﻭْ ﺩَﻣًﺎ ﺛُﻢَّ ﻟَﺤَﺴَﺘْﻪُ ﻣَﺎ ﺃَﺩَّﺕْ ﺣَﻘَّﻪُ ” ‏[ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ : ١٩٣٤)

“Seorang istri tidak akan dapat menunaikan hak Allah Azza waJalla hingga ia bisa menunaikan semua hak suaminya.”  (Shahih At Targhib 1934).
 Nabi ﷺ juga memperingatkan para istri dalam sabdanya, 
‏( ﺍﺛﻨﺎﻥ ﻻ ﺗﺠﺎﻭﺯ ﺻﻼﺗﻬﻤﺎ ﺭﺅﺳﻬﻤﺎ  ﻋﺒﺪ ﺁﺑﻖ ﻣﻦ ﻣﻮﺍﻟﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺮﺟﻊ  ﻭﺍﻣﺮﺃﺓ ﻋﺼﺖْ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺮﺟﻊ ‏(ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ‏: 1948)

“Ada dua golongan manusia yang shalatnya tidak sampai ke kepalanya, seorang budak yang durhaka kepada majikannya sampai ia kembali (taat) dan seorang istri yang durhaka kepada perintah suaminya sampai ia kembali (taat dan meminta maaf kepada suami).”

(Shahih At Targhib 1948).

Besarnya Hak Suami
Rosulullah ﷺ bersabda :
ﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﺁﻣِﺮًﺍ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺠُﺪَ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﻟَﺄَﻣَﺮْﺕُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓَ ﺃَﻥْ ﺗَﺴْﺠُﺪَ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (Riwayat At-Tirmidzi)
Wahai para wanita, jadilah kalian wanita yang sholiha. Tidakkah kalian ingin menjadi wanita surga ?
Rosulullah ﷺ bersabda :
ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَﺖِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺧَﻤْﺴَﻬَﺎ ، ﻭَﺻَﺎﻣَﺖْ ﺷَﻬْﺮَﻫَﺎ ، ﻭَﺣَﺼَﻨَﺖْ ﻓَﺮْﺟَﻬَﺎ ، ﻭَﺃَﻃَﺎﻋَﺖْ ﺑَﻌْﻠَﻬَﺎ ، ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻣِﻦْ ﺃَﻱِّ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺷَﺎﺀَﺕْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

 (HR. At-Tirmidzi)

Semoga bermanfaaf

Media Sosial

Menilai perilaku seseorang tidak bisa dari hartanya, penampilannya, gelar sarjananya, gelar hajinya, ucapannya, tulisannya, pakaiannya, ceramahnya, kotbahnya, pangkatnya, janji-janjinya, visi misinya, program kerjanya, jabatannya dan segala predikat yang menempel pada pribadi seseorang atau sekelompok orang.

 

Perilaku seseorang harus dilihat dari sikap sejatinya yang dikaitkan dengan norma dan etika yang berlaku.
Media sosial sebenarnya dibuat untuk memudahkan komunikasi antar orang, baik dalam dunia maya ataupun dunia nyata, dari jauh bisa menjadi dekat hingga bisa memupuk silaturahmi dan menjaga Hablluminannas… Dan mewujudkan hablum minallah..
Namun kenyataannya kini banyaklah berubah, tidak sedikit pengguna medsos yg menggunakan medsos sebagai ajang membanggakan diri, saling caci bahkan merendahkan orang lain…. Astaghfirullah na’udzubillahi mindzaliq.
Maka untuk saat ini Sama2 kita tau dan hapal sekarang ini media sosial dapat mempengaruhi baik atau buruknya akhlaq seseorang.. 
Mari sama2 kita bangun dan menjaga akhlaq  kita dari perkara yg Allah larang, mulai dari ucapan, tulisan dan kelakuan..  dan mari sama2 kita gunakan media sosial ini untuk memupuk silaturahmi agar  ridho dan keberkahan Allah terus menyelimuti kita.. 

Dalam hadits:
عن أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” سُوءُ الْخُلُقِ ذَنْبٌ لا يُغْفَرُ ، وَسُوءُ الظَّنِّ خَطِيئَةٌ تَفُوحُ ” .
Dari Anas bin Malik berkata : “Bersabda Rasulullah saw : “Akhlak yang buruk itu merupakan dosa yang tidak dimaafkan dan buruk sangka merupakan kesalahan yang menebarkan bau busuk”.

“إِنَّ لِكُلِّ دِيْنِ خُلُقًا وَخُلُقُ الإسلامَ الْحَيَاءُ 
Dari Anas bin Malik, Rasul bersabda : “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islami adalah rasa malu.” 

(HR. Ibnu Majah)
Akhiru kalam, Mudah2an kita bisa menjadikan media sosial sebaik2nya agar Allah tetap menjaga dan memberikan ridho dan berkahnya.. 
Jakarta, 26 September 2017

​Lisanmu Menentukan Nasibmu

Lisan terkadang dapat mengangkat derajat si pemilik lisan tersebut kepada derajat yang paling tinggi.

Namun lisan juga terkadang dapat menjerumuskan si pemilik lisan tersebut kepada tingkatan yang paling rendah. 

Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Ulama besar Syafi’iyyah,  Imama AnNawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim saat menjelaskan hadits ini mengatakan; ”Ini adalah dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, 
‘Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.’
(HR. Bukhari dan Muslim). 
Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, hendaknya merenungkan dalam dirinya sebelum berucap. 

“Jika memang ada manfaatnya, maka dia baru berbicara, Namun jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya (Diam)” 

Itulah manusia, dia menganggap perkataannya seperti itu tidak apa-apa, namun di sisi Allah itu adalah suatu perkara yang bukan sepele. Allah Ta’ala berfirman, “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15)

4 TIPE ORANG YG HARAM TERSENTUH API NERAKA

ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ،ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗُﺤَﺮَّﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻫَﻴِّﻦٍ، ﻟَﻴِّﻦٍ، ﻗَﺮِﻳﺐٍ، ﺳَﻬْﻞٍ

Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram (tersentuh api) neraka?.

Para sahabat berkata, “Iya, wahai Rasulallah!”.Beliau menjawab: “(Haram tersentuh api neraka) orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, Sahl”_(H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban).

▶1. HayyinOrang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Tidak labil dan gampang marah, penuh pertimbangan. Tidak mudah memaki, melaknat sertaTeduh jiwanya..
▶ 2.  Layyin
Orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur-kata atau berbuat. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri 
Tidak galak yang suka memarahi orang yang berbeda pendapat dgnya. Tidak suka melakukan pemaksaan pendapat.Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia.
▶ 3. Qorib
Akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan orang bagi yang mengajak bicara. Biasanya murah senyum jika bertemu.

▶ 4. Sahl
Orang tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan membuat orang lain lari dan menghindar.

Inilah bingkai akhlaq yang mulia