KABAR GEMBIRA UNTUK PARA WANITA SEBAGAI ISTRI-ISTRI YANG TAAT KEPADA SUAMI-SUAMI MEREKA

بشارة في هذا الحديث العظيم للنساء المتزوجات الطائعات لأزواجهن ،،
(( جاءت أسماء بنت يزيد الأنصارية للنبي ﷺ وقالت:
يا رسول الله أنتم معاشر الرجال .. فضلتم علينا بالجمع والجماعات والجنائز وفوق ذلك الجهاد في سبيل الله، وإذا خرج الواحد منكم حاجًّا أو معتمرًا قعدنا في بيوتكم فربينا لكم أولادكم وغزلنا لكم أثوابكم فهل بقي لنا من الأجر شيء يا رسول الله ؟
فسُرَّ النبي صل الله عليه وسلم بقولها والتفت إلى الصحابة وقال:
هل سمعتم مقالة أفضل من هذه ؟ قالوا: ما ظننا أن امرأة تفطن إلى مثل ذلك يا رسول الله.
فقال لها الرسول ﷺ :” ارجعي أيتها المرأة وأعلمي من خلفك من النساء ( أن طاعة الواحدة منكن لزوجها) تعدل كل ذلك وقليل منكن تفعله”. ))
” رواه مسلم”

Asma’ bintu Yazid Al-Anshariyyah datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan bertanya,
“Ya RasulALlah, kalian para kaum laki-laki memperoleh banyak keutamaan daripada kami kaum wanita, dengan mendapat kesempatan untuk shalat berjamaah, mengantar jenazah, dan lebih dari itu adalah kesempatan jihad fi sabilillah.

Dan jika salah seorang dari kalian pergi haji atau umrah, maka kami kaum wanita duduk di rumah-rumah kalian untuk mendidik dan mengasuh anak-anak kalian, dan kami cucikan baju-baju kalian. Maka… Apakah masih ada tersisa sedikit saja pahala untuk kami wahai RasulALlah?”

Maka Nabi صلى الله عليه وسلم senang dengan pertanyaan itu, lalu beliau menoleh kepada para sahabat dan bertanya,
“Apakah kalian mendengar ungkapan kalimat yang lebih bagus dari ini?”
Mereka menjawab,
“Kami tidak mengira bahwa ada wanita yang memiliki kecerdasan seperti itu wahai Rasulullah.”

Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada wanita tersebut:
“Pulanglah kamu wahai wanita, dan beritahukan kepada kaum wanita di belakangmu bahwa “KETAATAN SEORANG WANITA DI ANTARA KALIAN KEPADA SUAMINYA, MENYAMAI (PAHALA) SEMUA ITU, AKAN TETAPI SEDIKIT DARI KALIAN YANG (MAMPU) MELAKUKANNYA.”

HR. Muslim

Iklan

MENGAPA ANAK BAIK BIASANYA SEMAKIN BAIK, DAN ANAK NAKAL BIASANYA SEMAKIN NAKAL

Bismillahirohmanirrohim 

Mari kita renungkan bersama Sabda beliau:

*عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ (رواه الترمذي)* 
Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”. (HR. at-Tirmidzi) 
Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridho orangtuanya, hal ini akan membuat Allah Ridho juga kepadanya.
Tapi setiap anak nakal, pasti membuat orangtuanya murka, dan itu akan membuat Allah murka juga kepadanya.
Jika kita renungkan hadits di atas maka akan kita temukan “bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridho dan murka orangtuanya.”
Lebih jelasnya mari kita perhatikan siklus berikut:
Siklus Anak Baik :

Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik. 
Siklus Anak Nakal :

Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal. 
Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.
Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ?

Ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.
Anak Nakal -> ORANGTUA RIDHO -> Allah Ridho-> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.
Berat…??? 

Iya, tapi nilai kemuliaannya sangat tinggi. 

Bagaimana caranya kita sebagai orangtua bisa ridho ketika anak kita nakal?
Ini kuncinya:

Allah Ta’ala berfirman:
*َإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ*
Bila kalian memaafkannya… menemuinya dan melupakan kesalahannya…maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64:14).
Caranya *orangtua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.*
Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, “kita menguncinya” dengan pesan dari Umar bin Khattab :

“Jika kalian melihat anakmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya”.
Dan berdo’alah selalu:
*اللهم أَشْهَدُكَ أنِّي رَضِيْتُ بِوَلَدِي… رِضًا تَامًّا كَامِلًا وَافِيًا فارْزُقْهُ اللّٰهُمَّ رِضَاكَ بِرِضَايَ لَهُ*
“Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku ridho kepada anakku (dg menyebutkan nama anak) dg ridho yang paripurna, ridho yg sempurna dan ridho yg paling komplit. Maka berikanlah ya Allah keridhoan-Mu kepadanya demi ridhoku kepadanya.”
Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tau.
Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah orang tua yang tak sabar.
Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil.
Dan berdo’alah selalu:
*رَبَّنَا هَبْ لَـنَا  مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا*
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Allah satu2nya yg membolak balikan hati hambaNya. Maka mintalah kepada Dzat yg memilikinya. Lihatlah keajaibannya.
“Yaa Muqallibal Quluub, Tsabit Qalbi ‘Ala Diinik’ 

(“Wahai Dzat yang membolak – balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama – Mu
Semoga Allah menjadikan Anak keturunan kita termasuk anak-anak yang baik, sholeh sholehah, taat kepada Allah dan berbakti kepada orang tuanya…

Aamiin….

Kutipan dari: ​Majelis Ilmu dan Sholawat

​SETAN SEBAGAI TEMAN

   روى أبو هريرة رضي الله عنه ” التقى شيطان  المؤمن وشيطان الكافر، فاذا شيطان الكافر سمين دهين لابس، فاذا شيطان المؤمن مهزول أشعث عار، فقال شيطان الكافر لشيطان المؤمن ما لك على هذه الحالة ؟ فقال أنا مع رجل إذا أكل سمى فأظل جائعا، وإذا شرب سمى فأظل عطشان، وإذا أدهن سمى فأظل شعثا، وإذا لبس سمى فأظل عريانا، فقال شيطان الكافر أنا مع رجل لا يفعل شيئا مما ذكرت فأنا أشاركه فى طعامه وشرابه ودهنه وملبسه ” 
   Diriwayatkan oleh shohabat abu huroiroh ra :
 ” suatu ketika ada dua syaiton yang saling bertemu yaitu syaitonnya orang mu’min dan syaitonnya orang kafir, yang mana syaitonnya orang kafir tadi itu gemuk, wangi bersih dan berpakaian, sedangkan syaitonnya orang mu’min dalam keadaan sebaliknya,
 lalu syaitonnya orang kafir tadi bertanya : kenapa keadaanmu seperti ini ? 
lantas syaitonnya orang mu’min tadi menjawab : aku bersama seorang laki laki yang ketika dia sedang makan, minum, memakai parfum dan pakaiannya dia selalu membaca bismillah, maka terus-meneruslah aku dalam keadaan lapar, haus, kusut dam telanjang. 
Lalu syaitonnya kafir tadi bilang : bahwasanya dia bersama seorang laki laki yang tidak melakukan seperti apa yang dilakukan oleh laki laki mu’min tersebut,
 lalu syaitonnya orang kafir  tadi berkata : ” maka karna itulah aku selalu menemaninya didalam setiap makanan, minuman, parfum dan pakaiannya” 
 Timbul pertanyaan, masihkah kita akan lalai untuk selalu membaca basmalah dalam setiap pekerjaan kita yang tak terasa kita sering mengabaikannya….

ADA PINTU SYURGA DI RUMAHMU?

Seorang sahabat Nabi yg mulia Iyas bin Mu’awiyah menangis sejadi2nya ketika salah satu dari anggota keluarganya meninggal,maka seseorang bertanya : “Mengapa Anda menangis sedemikian rupa”?, Maka dijawab : “Tidaklah aku menangis karena kematian, karena yg hidup pasti akan mati, akan tetapi yg membuatku menangis karena dahulu aku memiliki dua pintu ke syurga, maka tertutuplah satu pintu pd hari ini dan tdk akan di buka sampai hari kiamat, aku memohon pd Allah agar aku bisa menjaga pintu yg ke dua”. Ternyata yg meninggal adalah Ibu yg dicintainya.
Sahabat Syurgaku.., Kedua orang tua adalah dua pintu menuju syurga, yg kita dpt menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang,
Rasulullah Saw bersabda: “Orang tua adalah pintu syurga yg paling tengah, maka jgn sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia”. (HR. Tirmidzi). Pintu syurga yg paling tengah, yg paling indahnya, yg paling eloknya.
Maka masihkah engkau sia2kan pintu itu?
Bahkan engkau haramkan dirimu tuk memasukinya?
Dengan mengangkat suaramu di hadapannya?
Dengan membentaknya di kala tulang2nya semakin lemah karena di mkn usia, Sementara tubuhmu yg berotot kekar dahulu telah di basuh kotoranmu dg tangannya yg kini tak bertenaga.
Rasulullah Saw bersabda : “Celaka, celaka, celaka ! , dikatakan pada beliau, siapa wahai Rasulullah?, Maka beliau bersabda : “Siapa saja yg menjumpai kedua orang tuanya, baik salah satu atau kedua-duanya di kala mereka lanjut usia, akan tetapi (perjumpaan tsb) tidak memasukannya ke syurga. (HR. Muslim) “Ya Allah, berilah kami kesempatan dan rizki untuk berbakti kepada kedua org tua kami, dan kumpulkanlah kami bersama mereka di syurga-Mu yg penuh kenikmatan 

” Aamiin….!

۞۞ JANGAN BELAJAR AGAMA TANPA BERGURU ۞۞

Bertalaqqillah (berhadapan dengan Guru) dan utamakanlah GURU yang ber SANAD…

RASULULLAH SAW :

“Ilmu yang di akui (mu’tabar/aman dipakai tuk sampai kepada ALLAH SWT) yang mana 1 per 1 sanad nya sampai kepada-Ku (Sayyidil Basyar).

Ibn Abdil Bar (wafat 463 H) Meriwayatkan daripada Imam Al-Auza’ie r.a. (wafat 157 H) bahwasanya beliau berkata :

Maksudnya “Tidaklah hilang ilmu (agama) melainkan dengan hilangnya sanad-sanad (ilmu agama tersebut)”. [At-Tamhid 1/314].

Imam Badruddin Ibn Jama’ah (wafat 733) berkata :

“Hendaklah seseorang penuntut ilmu itu berusaha mendapatkan Syeikh yang mana dia seorang yang menguasai ilmu-ilmu Syari’ah secara sempurna, yang mana dia melazimi para Syeikh yang terpercaya di zamannya yang banyak mengkaji dan dia lama bersahabat dengan para ulama”. Bukan berguru dengan orang yang mengambil ilmu hanya dari dada-dada kertas dan tidak pula bersahabat dengan para Syeikh (ulama) yang agung. [Tazkirah As-Sami’e Wa Al-Mutakallim 1/38].

Imam Ibn Abi Hatim Al-Razi (wafat 327 H) meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abdullah Ibn ‘Aun bahwasanya beliau berkata :

Maksudnya “Tidak boleh diambil ilmu ini (ilmu hadits dan ilmu agama) melainkan daripada orang yang telah diakui pernah menuntut sebelum itu (pernah meriwayatkan ilmu dari gurunya secara bersanad juga)”. [Al-Iarh Wa At-Ta’dil 1/28].

Imam As-Syafi’e r.a (wafat 204 H) juga berkata :

“Sesiapa yang bertapaqqoh coba memahami agama melalui isi kandungan buku-buku, maka dia akan mensia-siakan hukum (kefahaman sebenar)”. [Tazkirah As-Sami’e 87].

Imam Sufyan Ats Tsauri r.a (wafat 161 H) juga berkata : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”.

Imam Ibnul Mubarak (wafat 181 H) juga berkata : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad.”. (Faidhul Qadir juz 1 hal 433).

Al Imam Abu Yazid Al Bustamiy r.a (wafat 261 H) berkata :

“Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.”. (Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203).

Asy Syeikh As Sayyid Yusuf Bakhour Al Hasani menyampaikan bahwa :

“Maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan.“.

Kalaulah Al-Qur’an boleh membimbing kita. Kalaulah kitab Hadits boleh membimbing kita. Maka RASULULLAH SHOLALLAHU ALAIHI WASALLAM…!!! tidak risau dengan kematian ulama. Tetapi sebaliknya, Rasulullah SAW telah memberitahu betapa bimbangnya RASULULLAH SHOLALLAHU ALAIHI WASALLAM apabila berlakunya kematian para ulama. Karena ilmu diambil dari ulama, dan ulama adalah pewaris NABI MUHAMMAD SHOLALLAHU ALAIHI WASALLAM…!!!

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH YANG ASLI ADALAH MENGIKUT GURU YANG SANADNYA BERSAMBUNG KEPADA BAGINDA RASULALULLAH SHOLALLAHU ALAIHI WASALLAM…!!!
SEBAGAIMANA RASULULLAH SHOLALLAHU ALAIHI WASALLAM MENDAPATKAN WAHYU DARI ALLAH SWT MELALUI MALAIKAT JIBRIL.

SEBAGAIMANA PARA SAHABAT NABI BELAJAR AGAMA KEPADA NABI.

SEBAGAIMANA TABI’IN BELAJAR AGAMA KEPADA SAHABAT NABI.

SEBAGAIMANA TABI’UT TABI’IN BELAJAR AGAMA KEPADA TABI’IN.

SEBAGAIMANA SALAFUS SHOLIHIN (ULAMA ULAMA KUNO) BELAJAR KEPADA TABI’UT TABI’IN.

SEBAGAIMANA PARA KYAI BELAJAR KEPADA SALAFUS SHOLIHIN.

SEBAGAIMANA PARA GURU BELAJAR AGAMA KEPADA KYAI.

SEBAGAIMANA SANTRI DAN MASYARAKAT BELAJAR AGAMA KEPADA GURU.
MAKA INILAH YANG DISEBUT AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH MEMPUNYAI SANAD ILMU YANG SAMBUNG MENYAMBUNG SAMPAI KEPADA BAGINDA RASULULLAH SHOLALLAHU ALAIHI WASALLAM…!!!
JADI TIDAK BISA BELAJAR SECARA ASAL ASALAN ATAU BELAJAR SENDIRI (TANPA GURU) YANG HANYA BERMODAL MEMBACA KITAB KITAB, JIKA ITU TERJADI MAKA HANCURLAH PEMAHAMAN MENAFSIRKAN ILMU AGAMA SEMAUNYA SENDIRI DAN NGOMONG FATWA SESUAI HAWA NAFSUNYA..!!!
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi)

KENAPA ENGKAU TIDAK MENGENALKU WAHAI RASULULLAH ?

Hujjatul Islam Al Ghazali meriwayatkan bahawa ada seorang laki-laki yang lupa membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. 

Lalu pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah SAW tidak mau menoleh kepadanya,dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?”Beliau menjawab, “Tidak.” 
Dia bertanya lagi, “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?”
Beliau menjawab, “Karena aku tidak mengenalmu.”
Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu? 
Para ulama meriwayatkan bahwa sesungguhnya engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?”
Rasulullah SAW menjawab, “Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat aku dengan shalawat. Padahal perkenalanku dengan umatku adalah menurut kadar bacaan shalawat mereka kepadaku.”
Terbangunlah laki-laki itu dan mengharuskan dirinya untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW, setiap hari 100 kali. 
Dia selalu melakukan itu, hingga dia melihat Rasululah SAW lagi dalam mimpinya. Dalam mimpinya tersebut Rasulullah SAW bersabda, “Sekarang aku mengenalmu dan akan memberi syafa’at kepadamu.”
Ini semua karena orang tersebut telah menjadi orang yang cinta kepada Rasulullah SAW dengan memperbanyak shalawat kepada beliau…
Maka barangsiapa yang ingin dikenali oleh Rasulullah SAW, hendaklah ia memperbanyak bacaan shalawatnya..
(Kitab Mukasyafatul Qulub, bab IX, hal 55, karangan Hujjatul Islam Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali RA)
أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً


“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi – Sunan Al Kubro)
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم عدد خلقك ورضا نفسك وزينة عرشك ومدد كلماتك

Hukum menyentuh, membawa dan membaca Al-Qur’an bagi wanita Haidh dan nifas

 Bismillahi rohmanirrohim.. 

Hukum menyentuh, membawa dan membaca Al-Qur’an bagi wanita Haidh dan nifas

Wanita haidh/nifas diharamkan untuk menyentuh mushaf dan membawanya. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Artinya: “Tidak menyentuhnya (mushaf) kecuali orang-orang yang mensucikan dirinya.”
Dan Hadits Rasulullah ﷺ :
لا يمس القرآن إلا طاهر
Artinya: “Tidak menyentuh Alqur’an kecuali orang yang suci.”
Maksud mushaf adalah: Bagian ayat Al-qur’an yang tertulis walaupun hanya beberapa ayat yang dapat dipahami. Diharamkan menyentuh mushaf walaupun dengan kain.
Namun diperbolehkan membawa mushaf bersama benda lain jika berniat membawa benda tersebut saja. Jika berniat membawa mushaf saja maka hukumnya haram. Sedangkan jika berniat membawa keduanya atau tidak berniat sama sekali maka boleh menurut Imam Romli, dan sebaliknya menurut Ibnu Hajar.

Hukum membawa Mushaf bagi wanita Haidh/Nifas


Jika berniat membawa :

1. Benda saja : Boleh

2. Al-Qur’an saja : Haram

3. Benda dan Al-Qur’an : Boleh (menurut Imam Romli)

4. Tidak niat apapun : Boleh (menurut Imam Romli)
Membaca Al-Qur’an dengan niat mengaji



Wanita haidh/nifas diharamkan untuk membaca Al-Qur’an berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ :
لا يقرأ الجنب ولا الحائض شيئا من القرآن
Artinya: “Tidaklah seorang yang junub dan haid membaca sesuatu dari Al-Qur’an”
Berikut ini syarat seorang wanita diharamkan untuk membaca Al-Qur’an ketika Haidh/Nifas :
a. Membaca Al-Qur’an dengan niat mengaji saja atau dibarengi niat lainnya.

Jika niat untuk berdzikir, memberi nasihat atau kisah, menjaga hafalan, atau menjaga diri tanpa dibarengi niat mengaji, maka tak diharamkan. Tak diharamkan pula jika ia membaca Al-Qur’an tanpa dibarengi niat apapun.
b. Membaca Al-Qur’an dengan lafadz yang dapat didengarnya.

Oleh karena itu tak diharamkan jika ia membaca dalam hati atau memandang mushaf tanpa menggerakkan lidah.
Hukum membaca Al-Qur’an bagi wanita Haidh/Nifas
Niat membaca Al-Qur’an:

1. Niat mengaji saja : Haram

2. Niat mengaji dan lainnya : Haram

3. Niat lainnya saja (dzikir dll) : Boleh

4. Tak berniat apapun : Boleh
Para ulama fiqih bersepakat bahwa wanita haidh/nifas diperbolehkan untuk bertasbih, bertahlil, dan berdzikir selain Al-Qur’an.
Kitab :

الإبانة والإفاضة

في احكام الحيض و النفاس والإستحاضة

على مذهب الإمام الشافعي
Kutipan tausyiaah : Sayyid Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Qodir Assegaf

Semoga Bermanfaat