Bacaan Ketika Meletakkan Mayit Ke Dalam Kubur

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ  وَحَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِى الصِّدِّيقِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِى الْقَبْرِ قَالَ « بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

Dari Ibnu Umar, bahwasanya Nabi SAW apabila meletakkan mayit di dalam kubur beliau berdo’a : “BISMILLAHI WA ‘ALAA SUNNATI ROSUULILLAHI SHOLLALLAHU ‘ALAHI WASALLAM” (dengan menyebut nama Allah dan atas sunnah Rosulullah SAW). (HR. Abu Dawud : 3215)

Memperlakukan mayit juga membutuhkan aturan, sejak memandikan, mengafani, mensholatkan dan hingga meletakkannya kedalam kubur, mereka merasakan semua perlakuan orang2 yang masih hidup, bahkan indera ‘rasa’ mereka meningkat melebihi saat masih hidup, demikian yang banyak Nabi SAW ceritakan dalam berbagai teks sabdanya.

Hadits diatas menunjukan tentang bagaimana cara Nabi SAW demikian ‘santun’ memperlakukan mayit, beliau meletakkan mayit kedalam kubur dengan menyebut nama Allah dan rosulNya, beliau ingin mengajarkan kepada sahabtnya yang menyaksikan dan kita semua yang membaca hadits ini, bahwa babak ‘kehidupan’ baru akan dihadapi oleh si mayit dan siapa saja yang diletakkan didalam kubur.

Beliau mengucapkan asma Allah tentunya menyimpan maksud dan sekaligus sebagai do’a, dan bahkan bila kita membuka banyak literatur kitab hadits maka niscaya akan banyak kita temukan ‘ketakutan’ beliau dengan keadaan yang akan terjadi di dalam kubur, padahal beliau adalah manusia agung yang penuh dengan kemuliaan sikap dan perbuatan, lalu bagaimana dengan kita seharusnya?

Ketika tubuh masuk kedalam tanah, dalam kesendirian, maka berakhirlah segala ‘usaha’ manusia untuk menambah amal kebaikan kecuali hanya menantikan ‘kepedulian’ orang2 dekat yang masih hidup, saat itulah sudah akan dirasakan segala balasan dari semua perbuatan, hanya ada dua keadaan bagi penghuni kubur, menjadi orang bahagia atau menjadi orang yang sengsara dan hina, keadaan itu terus berlangsung hingga hari kebangkitan yang telah ditentukan olehNya.

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً وَعْدَ اللّهِ حَقّاً إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمْ شَرَابٌ مِّنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُواْ يَكْفُرُونَ

Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” (QS. Yunus : 4)

Apapun yang sekarang sedang kita rasakan dalam kehidupan di dunia ini sifatnya sementara, jangan terlalu larut dalam kesedihan, semua ketentuan dalam ‘genggaman’Nya.  Bersyukurlah setiap saat, karena bila masih nyawa dikandung badan  sesungguhnya masih Dia perkenankan kesempatan menjadi manusia yang penuh dengan karya kebaikan.

Coba saja luangkan waktu hanya berdua denganNya, lalu sambangi setiap fase kehidupan yang akan datang dalam alam fikir kita, pasti akan terasa bulir hangat air mata membasahi pipi, karena ternyata masih terlalu sedikit amal yang kita siapkan buat menghadapNya.

Wallahu A’lam Bisshowaab.

About these ads