Lima Kondisi Umat Islam

Memang, musibah bagi si mu’min adalah ujian, dan bagi si muslim yang terkadang lalai adalah peringatan, sedang bagi yang kufur terhadap ni’mat Allah SWTadalah azab. Sehingga untuk mengetahui musibah jenis manakah yang menimpa Indonesia saat ini, kita harus sama melakukan instropeksi diri.

Apabila bangsa Indonesia selama ini sungguh beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dengan menjalankan hukum-Nya dan menegakkan syari’at Nabi-Nya, tidak diragukan lagi kalau musibah yang ada saat ini adalah ujian dari Allah SWT sebagai bukti kecintaan-Nya kepada bangsa ini.

Setidaknya, apabila sebagian besar hukum Allah SWT masih dijalankan dan syari’at Nabi-Nya masih diperjuangkan oleh bangsa Indonesia, maka sekurang-kurangnya musibah yang ada saat ini adalah peringatan dari Allah SWT kepada bangsa ini sebagai bukti kepedulian dan perhatian Allah SWT kepada mereka.

Namun, apabila ternyata mayoritas bangsa ini sengaja menjauhkan hukum Allah SWT dan meremehkan syari’at Nabi-Nya, sehingga menimbulkan berbagai perilaku bangsa yang melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya SWT, maka tidak disangsikan lagi kalau musibah yang ada saat ini adalah azab dari Allah SWT sebagai bukti kemurkaan-Nya terhadap bangsa ini. Na’udzu billahi min dzalik.

Nah, kemungkinan terakhir inilah yang sangat kami khawatirkan. Mengingat kezholiman merajalela dan kemunkaran merebak di mana-mana. Kekhawatiran ini semakin dahsyat tatkala kami membaca sebuah hadits tentang dialog Rasulullah SAW dengan para Shahabat ra mengenai apa yang akan terjadi suatu hari nanti di tengah umatnya :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا طَغَى نِسآءُكُمْ وَ فَسَقَ شُبَّانُكُمْ وَ تَرَكْتُمْ جِهَادَكُمْ ؟! ” ,  قَالُوْا : ” وَ إِنْ ذَلِكَ لَكَائِنٌ  يَا رَسُوْل اللهِ ؟ ” ,  قَالَ : ” نَعَمْ , وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سَيَكُوْنُ ” ,  قَالُوْا : ” وَ مَا أَشَدُّ مِنْهُ يَا رَسُوْل الله ؟ ” قَالَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَمْ تَأْمُرُوْا بِمَعْرُوْفٍ وَ لَمْ تَنْهَوْا عَنْ مُنْكَرٍ ؟! ” ,  قَالُوْا : ” وَ كَائِنٌ ذَلِكَ يَا رَسُوْل الله ؟ ” ,  قَالَ : ” نَعَمْ ,  وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سَيَكُوْنُ ” ,  قَالُوْا  :” وَ مَا أَشَدُّ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” ,  قَالَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا رَأَيْتُمُ اْلمَعْرُوْفَ مُنْكَراً وَ اْلمُنْكَرَ مَعْرُوْفاً ؟! ” ,   قَالُوْا : ” وَ كاَئِنٌ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” ,   قَالَ : ” نَعَمْ , وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سيَكُوْنُ ” ,  قَالُوْا: ” وَ مَا أَشَدُّ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” ,  قَالَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا أَمَرْتُمْ بِالْمُنْكَرِ وَنَهَيْتُمْ عَنِ اْلمُعْرُوْفِ ؟! ” ,  قَالُوْا : ” وَكَائِنٌ ذَلِكَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” , قَالَ : ”   نَعَمْ ,  وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سَيَكُوْنُ ,  يَقُوْلُ الله ُتَعَالىَ (  بِيْ حَلِفْتُ ,  َلأُ تِيْحَنَّ لَهُمْ فِتْنَةً يَصِيْرُ اْلحَلِيْمُ فِيْهَا حَيْرَان )

Artinya : 

” Rasulullah SAW bersabda : ” Bagaimana kamu, jika isteri-isterimu telah durhaka, dan para pemuda mu telah fasiq, dan kamu telah meninggalkan jihad ?! ”, Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan sungguh-sungguh terjadi, wahai Rasulullah ? ” , Nabi SAW menjawab : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, lebih dari itu akan terjadi ”, Shahabat bertanya : ”Apa yang lebih dari itu, wahai Rasulullah ? ”, Nabi SAW menjawab : ” Bagaimana kamu, jika kamu tidak lagi menyerukan kema’rufan dan mencegah kemunkaran ?! ” , Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan terjadi, wahai Rasulullah ? ” , Nabi SAW menjawab : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, lebih dari itu akan terjadi ”,  Shahabat bertanya : ” Apa yang lebih dari itu, wahai Rasulullah ? ” , Nabi SAW menjawab : ” Bagaimana kamu, jika kamu melihat yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf ?! ”, Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan terjadi, wahai Rasulullah ? ” , Nabi SAW menjawab : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, yang lebih dari itu akan terjadi ”, Shahabat bertanya : ” Apa yang lebih dari itu, wahai Rasulullah ? ”, Nabi SAW menjawab : ”Bagaimana kamu, jika kamu menyerukan kemunkaran dan mencegah kema’rufan ?! ”, Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan terjadi, wahai Rasulullah ? ” , Nabi bersabda : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, yang lebih dari itu akan terjadi, Allah SWT berfirman :  (Aku bersumpah demi Aku, akan Aku buka bagi mereka fitnah, dimana orang yang penyantun di dalam fitnah itu menjadi kebingungan)”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunyâ rhm bersumber dari Abu Umâmah Al-Bâhili ra, juga oleh Abu Ya’lâ rhm bersumber dari Abu Hurairah ra.

Sungguh pun hadits tersebut lemah sanadnya, sebagaimana dikemukakan oleh Al-Imâm Al-‘Irâqi rhm dalam kitab Al-Mughni ‘an Hamlil Asfâr fil Asfâr fî takhrîji mâ fil Ihyâ’ minal Akhbâr, namun matan (isi dan substansi) hadits tersebut sesuai dengan kenyataan yang terjadi ditengah umat saat ini, sehingga di kalangan para juru da’wah sering dibawakan sebagai tanbih / peringatan bagi umat.

Sepakat Ulama bahwa dalam masalah aqidah atau hukum yang prinsipil maka tidak ada tempat bagi hadits dhaîf. Sedang dalam masalah manâqib, târîkh, sîroh, fadhâ-ilul a’mâl, at-targhîb wat tarhîb, al-wâ’izh wan nashîhah dan yang semacamnya, maka tiada mengapa memanfaatkan hadits dhaif selama kedhaifannya tidak terlalu parah. Sedang hadits maudhu’ ( palsu ) maka haram dinisbahkan kepada Rasulullah SAW dan tidak boleh dijadikan hujjah dalam hal apa pun.

Karenanya, tidak heran kalau Ulama besar seperti     Al-Imâm Al-Ghazâli rhm mencantumkan hadits tersebut di atas dalam karya besarnya,Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn. Di era kini pun Ulama sekaliber Asy-Syeikh Yûsuf Al-Qardhâwi hfz mencantumkan hadits tersebut dalam kitabnya, Malâmihu Al-Mujtama’ Al-Muslim alladzî Nansyuduh, bahkan beliau mengakui kalau apa-apa yang disebutkan dalam hadits tersebut sudah terjadi di zaman sekarang ini.

Jika Rasulullah SAW memberitakan tentang sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari lalu terbukti, maka itu bukan ramalan, terkaan atau pun prediksi beliau SAW, karena beliau bukan peramal, dukun  atau pun para normal, lagi pula suatu ramalan, terkaan atau prediksi bisa salah bisa benar. Sedang yang disampaikan Nabi SAW tentang sesuatu yang akan terjadi pasti benar dan pasti terbukti, karena apa yang beliau sampaikan berasal dari sumber ilahi, bukankah Allah SWT berfirman dalam Q.S.53 An-Najm ayat 3 – 4  :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إنْ هُوَ إلاَّ وَحْي يُوحى

Artinya :

” Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) ”.

Kejadian tersebut menjadi bukti kebenaran nubuwwah dan risalah yang dibawa oleh beliau SAW. Dengan kata lain, semua itu bukti bahwa beliau SAW adalah Utusan Allah SWT.

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW memberitakan akan terjadinya lima kondisi yang begitu parah dan sangat memprihatinkan di tengah kaum muslimin, yaitu :

Kondisi pertama, banyaknya wanita yang durhaka, para pemuda yang durjana dan kewajiban jihad yang ditinggalkan.

Kondisi ini sudah cukup lama terjadi di tengah kaum muslimin. Betapa banyak wanita kaum muslimin yang durhaka kepada suami, tidak merawat  anak sebagaimana mestinya, melepaskan kewajiban berjilbab, memamerkan aurat, menjual diri dengan alasan tekanan ekonomi, berlebihan dalam menuntut emansipasi hingga melupakan kodratnya sebagai wanita ??!!

Betapa banyak pula pemuda-pemudi kaum muslimin di zaman ini yang durhaka kepada kedua orang tua, jauh dari ajaran agama, meniru budaya kafir, hanyut dalam hiruk pikuk kema’siatan.

Sedikit sekali kaum muslimin yang peduli kepada kewajiban jihad. Jumlah mereka mencapai 1,5 milyar di atas muka bumi saat ini, namun di berbagai belahan dunia mereka diperlakukan dengan keji dan biadab, bahkan dibantai secara massal. Seruan jihad telah dikumandangkan namun seribu satu alasan digunakan untuk menghindar dari kewajiban.        

Al-Masjid Al-Aqsha sebagai tempat suci kaum muslimin yang disinggahi oleh Rasulullah saat Isra’ Mi’raj, bahkan pernah menjadi kiblat kaum muslimin selama 18 bulan di zaman Rasulullah SAW, kini berada di cengkeraman Zionis Israel tanpa ada upaya berarti dari kaum muslimin di dunia untuk membebaskannya. Seruan jihad pembebasan Al-Aqsha hanya menjadi slogan dan simbol. Dunia Islam bungkam, dan menyakitkannya ada sejumlah negara Islam atau yang mayoritas berpenduduk Islam justru menjalin berbagai hubungan baik dengan bangsa Israel Sang Penjajah baik secara terang-terangan atau diam-diam. 

Ironisnya, jutaan kaum muslimin lebih suka menjadi wisatawan menonton Al-Aqsha yang ditawan sambil sekaligus memberi devisa kepada Israel yang memberi mereka stempel visa masuk ke wilayah tersebut, dari pada bangkit berjihad mengusir kaum Zionis untuk pembebasan Al-Aqsha. Bahkan mereka dengan tanpa rasa malu mengambil foto sambil senyum dan tertawa di sekitar Al-Aqsha yang dikuasai Zionis Israel.

Kondisi kedua, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar diabaikan.

Kondisi ini juga mulai terasa dalam kehidupan kita kini. Umat Islam banyak yang telah mengabaikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka tidak lagi peduli kepada merajalelanya kemunkaran di sekitarnya. Mereka menjadi generasi cuek, yaitu generasi yang hanya bisa mengatakan : ” yang penting kami baik, kami menegakkan shalat, membayar zakat, menjalankan puasa Ramadhân, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, kami tidak berzina, tidak berjudi dan tidak melakukan kemunkaran lainnya. Ada pun di sekitar kami banyak orang yang berbuat munkar, maka itu tanggungjawab masing-masing, kami ya kami, mereka ya mereka, selama mereka tidak usil kepada kami maka kami juga tidak usil kepada mereka ”. 

Akibatnya kemunkaran makin merajalela, kezholiman makin menjadi-jadi. Yang munkar menjadi raja karena tidak ada yang melawan dan memeranginya.

Kondisi ketiga, pemutarbalikkan hukum yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.

Itulah, karena kemunkaran dibiarkan merajalela akhirnya berakar dan membudaya, sehingga umat jadi terbiasa melihat kemunkaran tersebut, bahkan melihatnya sebagai sesuatu yang lumrah lagi lazim. Dari sini timbullah penggunaan istilah-istilah ma’ruf untuk hal-hal yang munkar, seperti judi disebut buang sial, minuman keras disebut penghangat badan, pelacuran disebut usaha cari nafkah, pornografi disebut seni, dan lain sebagainya. Intinya, yang munkar disebut ma’ruf.

Sementara Gerakan Anti Ma’siat sebagai bagian dari kewajiban Al-Hisbah sudah lama ditinggalkan, jangankan dalam bentuk aksi fisik bahkan dalam bentuk pembahasan dalam upaya pembelajaran pun sudah banyak dilupakan. Akhirnya gerakan tersebut menjadi sesuatu yang baru, aneh dan mengada-ada. Timbullah penggunaan istilah-istilah munkar untuk hal-hal yang ma’ruf, seperti Gerakan Anti Ma’siat disebut anarkis, radikal, brutal, melanggar hukum, main hakim sendiri, aliran sesat, dan berbagai sebutan lainnya yang sudah kita bahas dalam risalah ini. Intinya, yang ma’ruf disebut munkar.

Tragisnya, kini Ulama dijadikan pecundang, Kyai dianggap bajingan, Da’i dibilang penjahat, Pesantren dituduh sarang teroris, dan ayat-ayat jihad disebut ayat provokatif, serta aturan syari’at dicap sebagai pengekang kebebasan.

Sedang Mafia dijadikan pejuang, Koruptor dianggap pahlawan, Pengkhianat dibilang penasihat, Tempat Ma’siat dilegalkan jadi sumber devisa, dan ajaran syetan disebut inisiatif yang positif, serta pelampiasan syahwat diakui hanya sekedar expresi kebebasan.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. 35 Fâthir ayat 8 :

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلاَ تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ‪‬

Artinya :

”Adakah orang yang dijadikan indah baginya (oleh syetan) perbuatan buruknya, lalu ia melihatnya sebagai kebaikan (sama dengan orang yang mendapat petunjuk) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki siapa yang Dia kehendaki. Maka janganlah dirimu binasa karena penyesalan atas mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Innâ lillâhi wa innâ ilâihi raji’un.

Kondisi ini sudah sama kita rasakan. Yang ma’ruf disebut munkar dan yang munkar disebut ma’ruf, yang halal dibilang haram dan yang haram dibilang halal, yang haq dikatakan bathil dan yang bathil dikatakan haq.

Kondisi keempat
, amar ma’ruf nahi munkar menjadi amar munkar nahi ma’ruf.

Pada puncaknya, karena amar ma’ruf nahi munkar tidak ditegakkan akhirnya terbalik menjadi amar munkar nahi ma’ruf. Artinya kalau umat tidak menyerukan kema’rufan dan mencegah kemunkaran maka niscaya akan datang saatnya mereka akan menyerukan kemunkaran dan mencegah kema’rufan.

Sikap amar munkar nahi ma’ruf adalah sikap munafiq fasiq, sebagaimana Allah SWT firmankan dalam Q.S.9  At -Taubah ayat 67 :

المنافقون والمنافقاتِ بعضُهم مِن بعضٍ يَأمرون بالمنكر ويَنهوْنَ عن المعروف ويَقبِضُون أيدِيْهِم نَسُوا اللهَ فنَسِبَهُم إن المنافقين هم الفاسقون

Artinya :

”Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyerukan kemunkaran dan mencegah kema’rufan serta mereka menggenggamkan tangannya ( kikir ). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan (mengabaikan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasiq ”.

Ternyata sikap munafiq fasiq seperti tertera dalam ayat di atas dan sebagaimana dikabarkan Nabi SAW lewat hadits tadi, mulai terlihat dalam kehidupan umat saat ini. Lihatlah, betapa minuman keras diiklankan di berbagai media cetak mau pun elektronik. Jalan-jalan raya di berbagai daerah dihiasi dengan papan-papan reklame minuman keras mulai dari ukuran kecil hingga raksasa.

Sejumlah majalah, tabloid dan harian di berbagai kota besar, secara terangan – terangan mengiklankan judi dan mengekploitasi sex.

Semua itu adalah seruan kemunkaran yang mengajak umat untuk ma’siat kepada Allah SWT.

Sementara, berbagai kema’rufan tampak dihalang-halangi. Sejumlah aktivis da’wah yang komit dengan perjuangan amar ma’ruf nahi munkar dicekal di berbagai daerah. Terjadinya teror dan berbagai ancaman terhadap masyarakat yang hendak menggelar pengajian-pengajian akbar dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, sekurang-kurangnya ada upaya mempersulit aktivitas tersebut.

Bahkan kerap terjadi orang tua yang menghalangi anak-anaknya agar tidak melibatkan diri dalam gerakan amar ma’ruf nahi munkar dengan alasan cinta dan kasih sayang terhadap mereka.

Semua itu merupakan upaya pencegahan kema’rufan yang menjauhkan umat dari kebaikan.

Kondisi kelima, pintu-pintu fitnah terbuka dan orang-orang penyantun kebingungan.     

Buah dari berbagai kesalahan umat sebagaimana terlihat dalam keempat kondisi di atas, adalah terbukanya pintu-pintu fitnah bagi mereka, akhirnya berbagai musibah, bencana dan malapetaka terjadi di mana-mana. Ini menjadi bukti kemurkaan Allah SWT kepada hamba-hambanya yang tidak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Saat kemunkaran merajalela kemudian pintu bencana terbuka, maka orang-orang yang penyantun lagi lemah lembut kebingungan dan keheranan, seperti tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ternyata kelima kondisi di atas telah secara riil ada di tengah kehidupan kita saat ini, mulai dari kemunkaran yang merajalela hingga  berbagai musibah yang terjadi di mana-mana.

Nah, sekarang simaklah pertanyaan Rasulullah SAW kepada kita semua,‫‬‫‬ yaitu : ” Bagaimana kamu ?! ” . Artinya beliau SAW menanyakan tentang‫‬‫‬ sikap kita dalam setiap kondisi tersebut di atas. Apakah kita bersikap pasif tiada peduli hanya berpangku tangan saja, atau kita bersikap aktif peduli dan bangkit memerangi berbagai kemunkaran.

Kini bagaimana kita akan menjawab pertanyaan Rasulullah SAW tersebut. Adakah dengan tanpa malu kita menjawab : ” Wahai Rasulullah, kami terlalu sibuk dengan shalat, dzikir, munajat, majlis ta’lim dan ibadah lainnya, hingga kami tak punya waktu untuk memerangi perjudian, minuman keras, perzinahan dan segala bentuk kemunkaran ”.

Jika itu jawaban kita, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri‫‬‫‬ ‪‬‪‬: ”Apakah kita lebih sibuk dari Nabi SAW dalam beribadah, apakah shalat kita lebih khusyu’ dari shalat beliau, apakah dzikir dan munajat kita lebih indah dari dzikir dan munajat beliau, apakah majelis ta’lim kita lebih marak dari majelis ta’lim beliau ? ”.

Demi Allah, ibadah Rasulullah SAW jauh lebih indah dari ibadah siapa pun. Kesibukan beliau dalam berda’wah menegakkan Islam jauh lebih besar dari kesibukan pejuang da’wah mana pun. Namun, sungguh pun demikian beliau masih meluangkan banyak waktu untuk memerangi kemusyrikan dan kebathilan tidak kurang dari 28 kali peperangan, beliau masih menyempatkan banyak masa untuk menghancurkan dan membakar masjid Adh-Dhirâr yang dijadikan sebagai sarang kemunkaran, serta beliau tetap aktif tanpa mengenal lelah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di mana pun beliau berada. Inilah suri tauladan yang diberikan oleh Nabi SAW yang wajib kita ikuti.

Jika para Shahabat ra keheranan dan kebingungan saat  mendengar tentang lima kondisi yang akan dialami kaum muslimin, bahkan mereka bertanya-tanya dengan penuh keprihatinan, maka kini kita bukan lagi membaca atau mendengar kabarnya akan tetapi mengalami langsung kelima kondisi tersebut.

Kini kita menyadari bahwa kondisi negeri yang carut marut dengan berbagai bencana dan malapetaka yang terjadi, tidak lain dan tidak bukan adalah buah dari maraknya kezholiman dan merajalelanya kemunkaran sebagai refleksi kedurhakaan  kita terhadap Allah SWT. Tidaklah terjadi kerusakan di atas muka bumi ini melainkan karena perbuatan manusia, sehingga mereka sendiri yang harus merasakan akibatnya. Seyogyanyalah, tatkala mereka telah merasakan penderitaan sebagai balasan bagi ulahnya, untuk segera bertaubat kembali ke jalan yang benar. Allah SWT berfirman dalam Q.S.30. Ar-Rum ayat 41, mengingatkan segenap manusia tentang hal tersebut :

ظَهَرَ الفسادُ فى البرِّ والبحر بما كسبتْ أيدِي الناسِ لِيُذِيْنَهُم بعضَ الذِي عَمِلُوا لعلهُمْ بَرْجِعُوْنَ

Artinya :

”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ” . 

Satu-satunya jalan untuk merubah kondisi ini adalah dengan kembali kepada Allah SWT dengan taubat yang sejati, kemudian merefleksikan dan mengaktualisasikannya dalam bentuk melawan kezholiman dan memerangi kemunkaran.

Oleh karenanya, wajib bagi segenap kaum muslimin di negeri ini, mencakup seluruh Ulama, Umara dan Umat untuk taubat kepada Allah SWT secara nasional, dengan menyesali segala kesalahan di masa lalu, memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa, ber’azam untuk tidak mengulanginya lagi, membulatkan tekad untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan kekuatan iman dan taqwa kepada Allah Azza wa Jalla.

Mari bersama kita camkan dengan baik pesan Qur’ani yang datang dari Robull ‘izzati :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96) أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (99) أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ اْلأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ (100) تِلْكَ الْقُرَى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَائِهَا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللهُ عَلَى قُلُوبِ الْكَافِرِينَ (101) وَمَا وَجَدْنَا ِلأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ (102)

Artinya :

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari saat mereka sedang tidur ?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)?  Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi) ?

Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir.

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasiq ”.

Pesan ilahi ini termaktub dalam Q.S. 7.  Al-A’râf : 96 – 102.

Pesan yang indah, sarat dengan hikmah. Sudah sepatutnyalah pesan ini mendorong kita semua untuk tidak ragu-ragu lagi dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan kekuatan iman dan taqwa kepada Allah SWT, sehingga berkah dan rahmat datang sedang bala’ dan musibah hilang. Insya Allah